RSS
Tampilkan postingan dengan label Cinta dan Persahabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta dan Persahabatan. Tampilkan semua postingan

Teruntuk Kasihku... (entah siapa & dimana)

Dear kasihku, apa kabar?
semoga saat ini engkau baik-baik saja...
Penatku, penatmu saat ini semoga selalu tetap di jalanNya…
Semoga mendung ini kau nikmati juga…
Supaya kau merasa sejuk setelah seharian bercampur debu...

Kasihku...
Aku rindu dalam rindu-rindu tentang takdir kita...
Semoga saat ini Penghulu kita menjagamu...
Melindungimu di jalanan yang terik atau di lautan yang berdebur...
Aku tak pernah tahu...
Namun tahukah kau??
Aku selalu yakin akan skenarioNya..

Kasihku...
Semoga saat ini Dia menjaga hatimu, mata, pendengaran, jiwamu
dan semuamu... untukku!!
Pun juga aku,
semoga Dia membantuku untuk menjaga kehormatanku, jiwaku, jasadku
semuaku... untukmu!!
karenaNya semata...

Kasihku..
Tahukah kau...?
Saat ini aku berdoa untuk keselamatanmu...
Semoga saat ini engkau masih teguh di jalan yang Ia bentangkan untukmu...

Kasihku...
Saat penat-penat pikir dan jasad begitu menggila...
Saat kumparan-kumparan dakwah ini mengajak kita berputar bersamanya...
Sungguh... aku hanya berharap Dia ridho atas apa yang aku dan engkau lakukan
(meskipun engkau disana...)

Kasihku, kau jauh disana...
Aku tak hendak melukis jasadmu...
Aku tak hendak mereka-reka, menebak-nebak tentangmu...

Sebab Kasih... tahukah kau?
Aku menyayangimu sebelum mata ini memandang, sebelum telinga ini mendengar.. sebelum hal-hal fisik merusak semua ketulusanku atas engkau...!
Dan aku ingin menjaganya agar tetap begitu : sederhana...

Ah... Kasihku..
Semoga kau lantunkan doa yang sama pada Pemilik kita...
Sebab takdirmu dan takdirku ada digenggamanNya...
dan kita...???
Tak pernah tahu...

Kasihku...
Dalam sujud-sujud panjangku, aku merayuNya...
Menyelipkan doa semoga aku pantas untuk mendampingimu...
Walaupun jauh disana saat ini adamu...
Namun, ada hormat, ada rindu, kepercayaan, yang memberiku selaksa energi khusus...

Kasihku...
Sungguh aku hanya ingin menjaga diriku, jiwaku...
Menjaganya, mempersiapkannya, menempanya...
Agar jika suatu saat Dia berkehendak, dan membuat skenario tentang kita...
Aku telah siap mendampingimu...
Dan kita akan tapaki jalan dakwah yang kita pilih dan kita cintai...
Hingga hanya Allah muara akhir semua cita...

Amin ya Rabbal alamin...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

XII EXACET ONE Alumni 2011 SMAN 2 Watampone

Okeh, sebelum saya perkenalkan teman” SMA saya, saya ingin mengucapkkan ASSALAMUALAIKUM WRWB !!

Saya perkenalkan darii kaum Adam terlebih dahuluu yah .
1.       Laode Manarfah : Teman saya ini sering dipanggil dengan sebutan “ODE”. Dia pintar, lincah, tinggii, suranya kayak bapak”, jail sekalii, tapii baiklaaaaahh !
2.       Muh. Masykur A. : huh, kalo teman saya ini, orangnya biasaaaaaaa sekalii, apaadanyaaa, sederhana dan sangatsangat sederhanaa. Baiiik, PD sekalii jadii cowook, pintaar,bahkan sangat pintaar. Banyak kebiasaannya yg sangat konyol, salah 1 nya, baju olahraganya jarang dicuci. Hhaa, piss Masykurrr :D.
3.       Iksan Wahidin : kalo ini sih beda” tipis dengan si Masykur. Tukangtidur, suka deketin cewek”, jorok jugaa, hobynya dengerin musiik” yg beraliran kerasssss. Aca, cowo berkacamata inii , waahh, nakalnyaa bkan main ”, dia cueekk abiissssss, tapi dianya sangatsangat dan sangat takut sama Bapaknya,
4.       Surwih Ardiman : nah, cowok yang satu ini sih sook kereen, sok ganteeng, sok cool laah. Hhaa, tapi pada dasarnya diaa (beleng”)/telmi. Tapi, dia pintar. Pintar dalam skolah maupun dalam menyembuhkann org yg kerasukan”kayaknya”. Hahahaha !
5.       Basri : waduh, kalau yang satu ini sih, orangnya agak aneehh. Disentuh dikit aja, pasti sudah maraah dan mukanya langsung meraah. Hhaaa, bagus buat dijadikan bahaan untuukk berbuat jail.  Yaaahh, dibalik keanehannya, diaa memaang smart. Apalgi kalau pelajaran Fisika ! goodlaaahhh.
6.       Salama : teman saya ini sihh, bagaimana yahh?? Ini org lebih mementingkan organisasi drpda pelajaraaan, santaaii skaalii, tp ttap tnang mnghdapi ujian meskipun nda belajaarr. Perhatiaaann, suka menolong, apalgi kalau saya dan teman” yg lain minta tlong u/digmbarin, woohh, pasti langsung ke cowo inii
Karena berhubung di kelas saya Adamnya Cuma ada 6, sekarang giliran Hawa lagi yang saya perkenalkan. Tapi khusus buat Hawa, kami cenderung berkelompok, jadi saya perkenalkan berdasarkan kelompok sajaa yaah . ^_^
Ø  TEGEL
Anggota TEGEL terdiri darii :
1.       Puji Kurniawati Rahman si sabar
2.       Wana Mariska si cueeekkk
3.       A. Tenri Awali Wildana si keciill
4.       Sri Wahyuni sii galaakk
5.       Hardianah sii narsiiss
6.       Kristina Agma Dyah S sii baiikk
7.       Yulia Safitrii sii aktiifff
8.       Alvianii Budiarti sii gendut
9.       Herdianah Bastian sii  pendiam
10.     Riti Astuti sii jaiill
Kelomppok ini yang anggotanya paling banyak di kelas. Mereka cenderuungg mikiirr pelajaraan.  Tapi kalau saya perhatikan, kayaknyaa mereka kelompok yang sangat kompaak. Sukaa mengadakan acara kumpul” bareengg gituu :D
Ø  ARAS
Kelompok ini terdiri dari:
1.       A. Fatimah Azzahra si jorok+pennyaa
2.       Ika kartika Diman sii baikkklaahh
3.       Chaerya ramadhani siii malas
Kalau kelompok ini sih, waduuh kocaakk sekalii. Ini sih kelompok yang paing giillaaaa, apalagi dengan kehadiran heryaaaa. Hhaaa, hancuurrlaaahhh
Ø  NAFHO
Kelompok ini mempunyai personil sebanyak:
1.       A. Amalya Permatasari A. sii lincah+PD
2.       Nuria Mentary sii crewett
3.       Hardiyanti Nur sii kaleemm
4.       Isma maksun sii keciiilll nann chuubyy
Wah, kalo ini sihh, kelompok yang paling eksiss laaahh, gifoonyaa mintaa ampyuunn deehhh. Nda diragukaann lagii. Meskipun kadang terlihat ada pertengkaran, tapii kelompok inii tetap soliddd. Bertahaann yeeewwww.
Ø  TRIO
Kelompok ini punya anggota 3 orang :
1.       A. Edang Kusuma Amir sii baweellll
2.       Dian Rica R sii modeeeellll
3.       Risky sii cempreengg
Ini kelompokk paling suka bawa bekaall . nda jauuh beda dengan TEGEL, serius juga sama pelajaraan. Tapi nda serius” ameeedd siihhhhh. Apalagi si Endangggg. Hhii
Ø  KELOMPOK YG SAYA TIDAK TAU NAMANYA APA
Ini mungkin bukan kelompok, tapii bias dikatakan “DUO”, mereka adalaah :
1.       Yesica Coreza sii telmii
2.       Nelly Sri Wulandari sii aneeh sangat
Dua orang ini, saya salut sama mereka. Wuhh,, akraab sangat. Ndak pernah bertengkar kayaknyaaa. Karena DUO ini kelas tuh ramaii, apalagi dengaan nyanyian dangdut si Nellyyy. Hahahaha.
Nah, kelompok yang terakhir yaituuuuuu.. kelompok saya sendiriii yg diberi namaa
Ø  SPB
Kami terdiri dari 4 orangg, yaituu :
1.       Mentary Ika Dwi Rahayu siii ????(saya ndak taauuuuu saya itu siii “apaa”)
2.       Putri Hening saraswati sii baiiikkk+sabaaarr”JEMPOL”
3.       Nur Faradillaah sii baweel+cerewt sangat
4.       Lisa Hafriyani sii teelmiiii
Wohh, kalau kelompok saya sihhhh,, bagaimanaa  yaah?? Mungkin dalam pelajaran itu sangat santai dan cueek. Di kelas Cuma bisaaa main” saajaa. Pokooknya paliing bisiingg kayaknyaaa. Hancuurr jugaalaah kayak sii ARAS !!

Weleh”, ituu semuaaa teman” saya dalam KElas XI-XII @IPA1 !! terdiri darii orang” dengan berbagai macam karakter. Banyak kenangan yg kami lalui, DEMO”, MOGOK belajar, BERTENGKAR ddan yang laiinnyaaa. Semuaa dak akan bias kami lupakaaaann. Karena di masa SMa lah kami merasakan masa remaja yg sesungguhnyaa.
Tak perlu berbcerita panjanglebar lagi, yang jelaassssssss,, I LOVE EXACT_ONE !!

mAAF YAH TEMAN"KU SAYANG, KALAU ada kesalahan kata ataupun nama !!
Saya hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.
hhaaaa

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

IJO (Ihhh.... Jomblo)



Jomblo buat gue itu adalah suatu masalah besar, masalah yang susah buat di atasin, dan masalah yang bakal jadi penghalang gue buat nikmatin masa muda, so! sebisa mungkin gue mencoba buat menghindari masalah itu, tapi sayang nya udah kira-kira Sembilan puluh tujuh hari terakhir ini gue telah terjebak dalam masalah yang nyebelin ini, gueee jomblooo!!! Oh my god!. (teriak ala soimah)
Udah segala usaha gue lakuin buat mendepak status jomblo dari hidup gue, tapi bau-bau status dan cewek baru belum keliatan juga, ya udah deh pasrah aja-lah gue, berdoa sama dewi jodoh supaya gue, SALAMA alias Alam yang baik hati, macho (Mattappa Choa), gagah, manis, rajin menabung dan tidak sombong serta tidak makan sabung, bisa lekas dapet pacar lagi, hiks hiks hiks!!!.

(lebay ya gue? Hheheheh, maklum ABG).
Hari demi hari udah nganter gue ke penghujung bulan Desember lagi, bentar lagi Tahun Baru, dan gue masih JOMBLOOO!! oh my god, gue musti ngapain? ngak musti kan gue pasang pamflet di jidat sama di pungung gue bertuliskan “gue lagi jomblo, ada yang mau ngelamar jadi pacar gue?” iuhhh, ngak banget deh! masa gue musti ngelakuin itu sih, ngak, ngak, gue musti cari cara! apa kata DUNIA kalo mereka tau di malam malam tahun baru gue masih jomblo juga, bisa ilang pamor gue, percuma dong gue punya tampang caem tapi nyatanya gue harus menyandang status JOMBLO hiks hiks hiks (sambil garuk garuk kepala).

Hemmpp !! masih dengan tampang galau gue bangkit dari tempat tidur terus liat jam, udah jam 8 malem, udah lama banget sejak terakhir kali di jam-jam segini ada yang sms gue ngingetin makan, terus nanyain, “hari ini ngapain aja? Capek atau ngak?” dan terakhir dia bakal bilang “aku kangennn banget sama kamu!” pake cium cium cium gitu, huhuhuhu. Buka laptop terus online, buka fb terus twitter cari kecengan mana tau ada yang cantik plus anggun, yayayaya “ide bagus tu” (sambil ngangguk-ngangguk ala profesor).
Udah satu jam lebih ngadepin laptop, nongkrong-in fb+twitter, baru ganti foto profil + avatar, belum ada juga yang nge-chat atau kirim mention, ohhh my god!. bener-bener galau tingkat provinsi sulsel dech gue.
Tik tok tik tok (suara jam, yang menurut gue bunyinya lebih mirip suara tutup panci yang di adu). setelah sekian lama nunggu, udah ngantuk-ngantuk pula, akhirnya ada juga yang nge-chat.
Dengan penuh pengharapan gue klik deh panel warna merah di sudut kanan paling bawah layar Fb gue, namanya “Sry Rahayu Yusuf”.
Ehmmppp, taruh telujuk di jidat sambil liat lampu di atas kamar (mikir gitu maksudnya), “kayaknya gue kenal ni orang”
Dia bilang “hay”, gue bales ngak ya? bales aja deh, langsung gue ngetik dengan serius, keluarin jurus-jurus maut jadinya chat gue sama cewek tidak di kenal itu ngak kerasa udah panjaaannnggg banget. “Asik asik” pikir gue dalem hati dapet gebetan baru. Ngak kerasa udah jam 11.00 wib. Gue nyudahin chat sama dia. Terus gue sama dia tukeran nomor yang dua belas (nomor hp maksudnya). besok janjian ketemuan. Horeee teriak gue dalem hati.
Keesokan harinya seperti yang sudah di rencanakan, gue dateng tempat janjian blind-date gue sama si Ayu. Di salah satu warkop di deket rumah gue juga. waktu gue datang dia udah ada di meja yang udah di pesen sebelumnya, waktu gue samperin ternyata dia CANTIKK banget! oh my god! Kayaknya gue dapet rejeki nomplok nih bisa ketemuan sama cowok yang ganteng nya cetar membahana gini, ya dan pastinya gue ngak kalah kok cantiknya buat jadi pacar dia. (narsis bukkk! -_-)
Waktu gue datang dia berdiri terus senyum sama gue, gue senyumin balik, sampai klepek-klepek gue kena senyum dia. Terus gue duduk di depan dia, niat nya sih biar bisa mandangin muka dia yang cantik, “udah lama nunggunya?” gue nanya pake gaya manja + senyum malaikat. Terus dia senyum sambil ngangguk-ngangguk doang, “ehm, sering dateng kesini” gue nanya lagi dengan maksud mencairkan suasana, terus dia ngangguk-ngangguk lagi, gue mulai curiga dan perasaan gue mulai ngak enak, udah 10 menitan gue sama dia ngak bicara sepatah kata pun, Cuma lirik-lirikan doang, udah kayak drama korea yang serig gue tonton aja, akhirnya dia bersiap-siap buka mulut, dan pas dia ngomong TERNYATA, dibalik senyumnya yang cute banget itu, ada! gigi nya ompong, arhhhhh (terik gue dalem hati) ohhh my god!!.
Casingnya sih boleh anak muda, tapi kok giginya kakek-kakek sih, ilfeel deh gue, tanpa ba bi bu lagi, gue pamit undur diri, dengan alasan ada janji mau nemenin nyokap belanja. langsung pasang langkah seribu menjauh dari TKP, ninggalin si ganteng ber-GIGI ompong yng masih melongo ngeliatin gue dari belakang, gila ngak lagi-lagi deh gue cari cowok di FB atau twitter atau jejaring sosial lainya, nanti bisa-bisa dapet yang lebih parah dari ini.
Ok!! gue kalah deh, gue bakal terima penobatan status jomblo dengan berat hati di hari tahun baru yang akan datang. Ya udah lah, apa hendak di kata gue kayaknya harus menyandang status jomblo buat beberapa saat kedepan, tapi “apa kata dunia?” seorang SALAMA alias Alam yang baik hati, macho (Mattappa Choa), gagah, manis, rajin menabung dan tidak sombong serta tidak makan sabung. Jadi JOMBLO.. Cuma bisa geleng-geleng kepala. Lagian Cinta itu pasti bakalan datang pada saatnya, ya kan guys!!
“buat para jomblo, ngak usah bingung, ngak usah pusing, jadilah jomblo terhormat, hahahahah”

_THE END_

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tak Sempat Terbalas


Kala muncul banyak pertanyaan ‘apa cinta sejati itu ada?’. Tak semua orang merasakan apa itu cinta sejati. Salah satunya adalah Alam, siswa kelas 3 SMA Negeri 2 Watampone itu juga mempertanyakannya. Saat itu, Alam terus merenungkan pertanyaan itu di d hatinya ‘apa cinta sejati itu ada?’

Saatnya berangkat sekolah, “maq.. lokkana pale dolo massikola” teriaknya sambil mencium tangan mamanyamagai de muanre dolo naq?”, “deto maq, mattanressoni. Lokkana maq, Assalamu Alaikum..”. Baru kali ini Alam berangkat kesiangan, yang biasanya Alam di kenal teman sekelasnya sebagai siswa yang rajin dan selalu berangkat pagi itu akhirnya terlambat sekolah juga.

Alam memperhatikan keadaan sekolahnya lewat ojek yang berhenti tepat di depan gerbang itu, ternyata sudah tertutup rapat-rapat dan satpam yang sudah ontime berjaga di depan gerbang “siap-siap deh Alam, untuk pertama kalinya kamu di hukum” gumamnya d hati. Akhirnya ia turun dari ojek itu, dan langsung berjalan menuju gerbang yang terkunci itu.

magai tu naq, tegaki pole nappa engka ? Na magguruni taue?” ucap satpam sambil membukakan pintu gerbang sekolah, “tabe di paq, katajangekka. Kuruq sumange paq”, “iya cepat masuk” sembari menutup kembali pintu gerbang itu. “kok tumben ya, gak ada guru yang berjaga di sini, biasanya kalau ada yang terlambat langsung di suruh ke ruang BK” sambil memperhatikan keadaan sekitar.

Mengetahui tak ada guru yang sedang berjaga, Alam berniat untuk meneruskan langkahnya menuju kelas, namun “ehemm, Alam?” sejenak langkahnya berhenti dan menoleh ke belakang. “eh.. Bu Eni, hehee” wajah nyengir, yang tak tau harus berbuat apa. “sekarang juga kamu ikut ibu ke ruang BK”, “iya bu”. Niat Alam pun batal menuju kelas.

Dag.. dig.. dug.. hati Alam kian berdegup kencang, karena ini adalah kali pertama Alam memasuki ruang BK “haduh Alam, kamu gimana sih pake bangun kesiangan!” gumamnya kembali d hati. “ayo Alam, silahkan masuk”. Langkah Alam begitu berat memasuki ruang BK. Tapi apa daya, mau tidak mau akhirnya Alam pun memasuki ruang BK.

Setelah Alam memasuki ruang BK, Alam semakin takut karena ia berpikir ia adalah satu-satunya siswa yang masuk BK pada pagi hari itu. Tapi pemikiran Alam salah besar, ketika Alam sudah memasuki ruang BK, Alam kaget “buset!!!” ternyata ruang BK di penuhi anak-anak lain yang juga telat pada hari itu. Disana Alam memperhatikan seorang siswa kelas 3 juga sedang di minta keterangan. Ya, dia adalah Rara. Seorang siswi yang di dambakannya sejak kelas 1, tapi sayangnya cinta Alam belum terbalaskan meskipun Rara sebenarnya sudah mengetahui perasaan Alam.

Setelah di minta keterangan, akhirnya Alam dan yang lainnya dapat memasuki kelas masing-masing. Alam sengaja berjalan di belakang Rara agar Alam dapat memperhatikan Rara dekat-dekat. “andai, aku adalah pria yang kau cintai..”. Setiap Alam melihat Rara pasti hatinya sakit, karena Alam tau sebenarnya Rara mencintai pria lain yang kelasnya bersebelahan denganku.

Tak terasa bel istirahat pun berbunyi, Acha sahabat Alam mengajak Alam makan di kantin. “ke kantin yuk?” seraya menarik tangan Alam “tapi Acha.. aku lagi gak mood”. Acha tak memperdulikan Alam, Acha menarik tangan Alam dan akhirnya Alam mengalah. “iyaa..”

Sesampainya di kantin…
“bu
qe loka manre bassoq, dua di.” Pokoqnya, hari ini aku yang traktir kamu” Alam hanya tersenyum. “eh Alam, kamu kok tumben tadi telat?” “iya, tadi aku kesiangan bangunnya kesiangan”. Di tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba Puji datang. Di sekolah, Puji terkenal cewek smart dan penampilannya keren, banyak siswa di sekolah naksir tapi tak di perdulikan karena Puji dengar-dengar menyukai seorang siswi di sekolahnya. Dan itu menjadi pertanyaan besar buat siswa di sekolah. “bu, pesen satu ya baksonya” sambil tersenyum pada Alam dan Acha.“eh
Alam, kamu ngerasa gak sih ada yang aneh sama Puji?” menatap wajah Alam bingung “memangnya kenapa? mungkin dia ingin berteman sama kita. Udah ah, biarin”. “ke taman yuk? Aku bosen di kelas” sambil menarik tangan Alam.
Duduk di taman saat istirahat sekolah memang paling nyaman dari pada di kantin, Acha mulai menceritakan segala hal yang baginya menarik untuk di ceritakan pada Alam. Baginya, Alam adalah sahabat yang terbaik. Namun, saat Acha sedang asyik bercerita, tiba-tiba Puji datang menghampiri mereka dan langsung duduk di samping Alam “hai, boleh gabung kan? Kenalin aku..” belum selesai bebicara Acha langsung berkata “Puji kan? Gak perlu kenalan juga aku udah tau”. Mendengarnya Puji hanya tersenyum.
“emm.. kayaknya aku harus ke kelas sekarang.
Acha, kamu di sini aja temenin Puji” “tapi…” Acha bingung melihat Alam pergi begitu saja. “Gimana sih Alam, masa aku di tinggal sendirian” dengan wajah cemberut. “eh Acha, sebenarnya ada sesuatu yang harus aku kasih tau ke kamu. Tapi kamu janji jangan kasih tau Alam ya?”. Acha semakin bingung dengan tingkah Puji akhir-akhir ini yang selalu muncul tiba-tiba “bicara aja, aku gak akan bilang Alam kok”. “makasih ya, sebenarnya aku ada rasa sama sahabat kamu itu, tapi aku gak pernah berani ungkapin nanti dia malah minder dari aku” “kenapa takut? kamu harus berani dong, nanti cintamu tak terbalaskan loh. Aku bingung deh sama kamu, kamu itu cantik, pinter banget lagi, banyak cowok ganteng yang suka sama kamu. Tapi, kenapa kamu senengnya sama Alam?”. Puji hanya tersenyum kecil dan berkata “aku juga gak tau..”
Di sisi lain, Alam yang sedang berjalan menuju kelas ternyata bertemu dengan Rara, cewek idamannya. Sejenak, langkah Alam berhenti dan memandang wajah Rara itu. Alam sadar, Rara tidak pernah memperdulikan perasaannya, tapi sepertinya cinta Alam tak pernah pupus. Alam melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Alaaaaaammm!!!” teriak Acha dari pintu kelas dengan wajah cemberut dan kemudian berkata “kamu itu nyebelin tau gak? kenapa sih, kok aku di tinggal sendirian di taman tadi?!” sambil berjalan menuju Alam. “maaf Acha, tadi aku buru-buru” sambil tersenyum meRayu Acha. “ya udah deh. Eh Alam, gimana si Rara? kamu ketemu dia gak?” “tadi, aku ketemu dia di depan kelas” wajahnya mulai datar. “terus.. terus? kok wajahmu sedih? Respon dia gimana liat kamu tadi” “ya begitulah..”. Melihat sahabatnya sedih, Alam tak tega “sabar ya Alam” gumamnya dihati.
Waktu demi waktu cepat berlalu, akhirnya bel pulang pun berbunyi. “ayo Alam, capek nih” mereka berjalan keluar kelas. Saat itu keadaan di luar kelas ramai, lantas mengalihkan perhatian Alam dan Acha. “Alam, lakkaki koro, megata tau!” sambil menarik tangan Alam. “eh.. tabe cede, siselleki langgo!” Acha berusaha mendapat barisan depan dan membaca pengumuman yang ada di mading. Ternyata itu adalah pengumuman pensi sekolah yang akan di adakan besok malam.

Keesokan harinya di sekolah, di kelas Acha membicarakan hal pensi pada Alam. “Alam, kamu ikut ya nanti malam?” dengan nada merayu Alam. “iya, aku ikut kok” mendengar jawaban Alam, Acha pun lega “asiik..”. Terdengar suara guru dari depan kelas “anak-anak, ayo ke lapangan. Kita olahraga”.

Saat itu, materi olahraganya adalah basket. Kebetulan sekali Alam dan Acha berada dalam tim regu. “priitt..” pluit sudah berbunyi dan tandanya permainan di mulai, lawan main tim Alam adalah tim dari Asdi. Banyak siswa di sekolah yang tak menyukai Asdi karena sifatnya yang angkuh dan sok ganteng itu. Saat Alam akan merebut bola yang di bawa Asdi, tiba-tiba muncul perkataan dari mulutnya “kamu tidak akan bisa mendapatkan Rara!” Mendengarnya, Alam pun terdiam “darimana dia bisa tau kalau aku suka Rara..”. Alam masih saja terdiam sampai ia tak mendengarkan teriakan AchaAlam! Awas!!!”. Alam kaget dan menoleh kebelakang dan.. “BRUKK!!!”

“aduh, Acha.. aku dimana? kepalaku sakit banget ..” berusaha duduk sambil menahan kepalanya yang sakit. “Alam.. kamu tiduran aja dulu.. emang ya si Asdi itu keterlaluan banget sama kamu. Bisa-bisanya dia lempar bola basket ke kepalamu! awas aja!”. “udah, kamu gak boleh gitu. Mungkin dia gak sengaja. Acha, yang bawa aku ke UKS siapa?” Alam penasaran. Acha bingung harus menjawab apa, akhirnya Acha jujur dan menceritakan semuanya pada Alam “sebenarnya yang bawa kamu ke sini itu Puji. Alam.. dia itu suka sama kamu. Tadi, begitu lihat kamu pingsan, Puji langsung datang ke lapangan nolongin kamu. Kalau aku rasa, Puji itu tulus”. Alam tak merespon perkataan Acha.

Malam hari yang di tunggu-tunggu para siswa. Alam dan Acha berangkat bersama menuju pensi sekolah. “Ramai banget Alam.. oh ya, kepalamu udah gak sakit kan?” “udah, aku baik-baik aja. Masuk yuk, cari tempat duduk”. Sebelum mencari tempat duduk, Acha ingin membeli makanan dan minuman untuk di bawa ke dalam. “Alam, kamu tunggu di sini bentar ya. Aku mau beli cemilan dulu depan”.

Alam yang sedang sendiri menunggu Acha kembali, tak sadar bahwa Puji sedang menghampirinya. “hai Alam..” sapa Puji. “oh.. kamu Puji” d hati Alam sebenarnya sudah mengetahui Puji menyukainya dari sikapnya akhir-akhir ini. “Kamu gak masuk ke dalam?” Alam hanya menolehkan kepalanya.

Puji masih saja menemani Alam di luar yang sedang menunggu Acha kembali. Tiba-tiba, ada sebuah motor tepat di depannya dan ternyata “Rara..”. Malam itu, Rara begitu cantik namun Puji juga tak kalah cantiknya dengan Rara. Rara membuka pintu motornya dan keluar, baru saja Rara menutup kembali pintu motornya itu, tiba-tiba saja Asdi datang menghampiri Rara dan langsung meraih tangan Rara di hadapan Alam sambil berkata “aku udah nungguin kamu dari tadi, gimana kalau kita masuk sekarang di dalam udah ramai” Rara hanya tersenyum.

Asdi yang pada saat itu menggandeng tangan Rara, berniat untuk mempermalukan Alam di hadapan Rara. “Ehh.. ada Alam di sini. Kamu liat kan sekarang, apa yang aku bilang ke kamu bener kan? Sekarang Rara sama aku, dan harapan kamu untuk bersama Rara… pupuslah sudah! Jadi, mulai sekarang kamu jauh-jauh dari kehidupan kita. Minggir! Aku sama Rara mau lewat!!!” mendengar perkataan Asdi, Puji yang masih berada di sana langsung membela AlamAsdi! gak seharusnya kamu bilang gitu ke Alam”. Asdi yang tak terima dengan perkataan Puji, langsung berkata “Oh.. gitu! sejak kapan kamu suka sama Alam! pake bela-belain dia!!”. “Diam kamu!!!” Puji kesal atas perkataan yang di lontarkan Asdi pada Alam.
“Stop!!! Apa-apaan sih kalian ini! Dan kamu
Alam, apa kurang sikap aku yang selalu dingin ini ke kamu. Kenapa sih, kamu gak sadar-sadar. Aku gak pernah cinta sama kamu!” Alam tak pernah menyangka, Rara akan berkata seperti itu. Sakit hati Alam mendengarnya, lantas tanpa sepatah katapun Alam berlari meninggalkan mereka. Puji yang saat itu mendengar perkataan Rara langsung berkata “Keterlaluan loe Rara!”.
Puji mengejar Alam, sambil berteriak “Alam.. berhenti!!! Maafin aku, jujur sebenarnya aku mencintaimu” Alam pun benar-benar berhenti dan berkata sambil menangis “berhenti mengejarku! Kamu tau kan rasanya mencintai orang yang gak pernah cinta!!! jadi, berhentilah mengejarku!” Alam terus saja menangis, “jadi.. maksud kamu”, “ya, aku tak pernah bisa mencintaimu!” Puji terdiam mendengar perkataan Alam. Alam terus berlari mencari tempat di mana ia bisa menenangkan diri. “Alam berhenti..!”, “sudah aku katakan berhentilah mengejar cintaku!!” tak sadar, tiba-tiba ada motor melaju kencang ke arah Alam dan… “ALAAAAMM!!!”

Acha yang pada saat itu sedang berada di pinggir jalanan membeli makanan, melihat kejadian langsung berlari menghampiri Alam begitu pula dengan Puji. “Alaamm!!! Aku akan panggil ambulan sekarang juga” ucap Puji dengan rasa panik melihat keadaan Alam yang berlumuran darah. Tiba-tiba Alam menarik tangan Puji dan berkata “jangan.. Puji, maafin aku dan terimakasih sudah mencintaiku” sambil tersenyum. Ternyata, itu adalah perkataan terakhir yang di ucapkan Alam. “ALAAAAMmm!!!”

Mendengar  kejadian itu, Rara dan siswa lainnya segera berlari menuju tempat kejadian. Ketika Rara sampai di tempat, tiba-tiba saja Rara meneteskan air mata di hadapan jasad Alam yang masih berlumuran darah itu sambil berkata “maafkan aku Alam.. semua salah aku, seharusnya aku tak mengatakan itu”. Puji yang saat itu memeluk jasad Alam, membisikkan sebuah kalimat terakhir untuk Alam “aku akan mencintaimu sampai kapanpun…”

Kini, cinta Alam pada Rara tak sempat terbalas, begitu pula dengan cinta Puji pada Alam ..


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kepergian Ibu


Ra! Ibu sudah tidak ada.’’ Suara Mas Dhyka di ujung telepon sore itu membuatku terduduk di bangku sebelah meja telepon kami.
“Inna lillahi wa inna illaihi rojiun... jam berapa Ibu pergi, Mas? Kamu sekarang di mana? Kamu baik-baik saja, Mas?”
“Aku di sini rumah sakit, Ra. Aku sedih sekali.”

Suara Mas Dhyka terdengar semakin serak. Aku yakin, dia pasti sedih sekali. Suamiku itu sayang sekali kepada ibunya yang telah membesarkan dia dan adik-aadiknya. Ayahnya meninggal karena kecelakaan ketika Mas Dhyka dan adik-adik masih duduk di bangku sekolah.
“Aku susul ke rumah sakit yah, Mas?” sahutku.
“Tidak usah, Ra. Kamu langsung ke rumah Ibu aja, bantu-bantu di sana.”
“ Iya deh. Ketemu di sana ya, Mas,” sahutku lagi.
Dalam perjalanan ke rumah Ibu aku teringat bagaimana di awal-awal pernikahan, aku begitu cemburu pada perhatian Mas Dhyka terhadap Ibu Mertuaku itu. Bagaimana tidak?

Dalam seminggu, dia bisa mampir ke rumah Ibu paling sedikit tiga kali. Belum lagi Mas Dhyka tidak sempat mampir ke rumah Ibu Mertuaku itu, maka dapat di pastikan ia akan menelpon Ibu, menanyakan beliau sedang apa, sudah makan atau belum, kemudian mereka akan ngobrol lama. Kalau sudah begitu aku pasti jadi sebal setengah mati. Kayak orang pacaran yang lagi di landa cinta aja, begitu pikirku dulu.
Puncak kesalahanku atas perhatian Mas Dhyka ke Ibu adalah ketika aku hamil anak pertama kami, Indri. Namanya juga wanita hamil, suka cari-cari alasan supaya di perhatikan suami. Itulah yang terjadi pada diriku. Aku semakin sering marah-marah dan cemberut, kalau Mas Dhyka terlambat pulang ke rumah. Suatu hari Mas Dhyka pulang jam 9 malam, aku pun protes keras waktu itu.
“ Ke mana aja sih, Mas? Kok jam segini baru pulang?” 
“ Biasa Ra, ke rumah Ibu sebentar. Ibu lagi flu, jadi aku beliin obat dan sup dulu biar sakit Ibu nggak berlarut-larut.”
“Hm... kalau Ibu aja, cepat deh tanggapnya. Aku yang hamil begini dilupain sama kamu,” Protesku.

“Kok kamu gitu ngomongnya, Ra? Memangnya aku ngelupain kamu? Jangan begitu dong. Aku sayang sama kamu, tapi wajar’kan kalau aku juga sayang dan merhatiin Ibu, Ra. Lagi pula, kapan sih kalau kamu butuhin aku, aku nggak peduli sama kamu? Tiap kamu minta beliin makanan apa aja, biar pun tengah malam, aku tetap berangkat’kan Ra? “
Jawab Mas sambil meninggalkanku ke kamar.
Saat itu aku sedih sekali karena Mas Dhyka lalu mendiamkan aku beberapa hari. Aku masih tidak mengerti atau tepatnya tidak mencoba mengerti alasan Mas Dhyka terlalu memerhatikan Ibu.
Lamunanku terhenti ketika taksi yang kutumpangi mendekati rumah Ibu. Kulihat rumah Ibu mulai ramai.

Ketika aku masuk, tampak semua adik-adik Mas Dhyka sudah berkumpul. Aku mendatangi dan memeluk mereka, terutama Putri si bungsu. Dia masih kuliah, pasti berat untuknya menerima ke pergian Ibu. Tidak lama kemudian aku pun sudah mulai sibuk membantu mempersiapkan segala keperluan untuk pemakaman Ibu besok.
Hampir magrib ketika jenazah Ibu sampai dari rumah sakit. Keadaan begitu mengharukan ketika jenazah Ibu di tempatkan di ruang tamu. Adik-adik Mas Dhyka mendekati jenazah Ibu dan tak lama kemudian tangis mereka kembali pecah. Aku lihat Mas Dhyka pun sangat terguncang. Aku raih tangannya.

“Sabar ya, Mas. Relakan Ibu. Kita doakan semoga Ibu di terima di sisi tuhan dan di berikan tempat yang layak.”
Tangis Mas Dhyka pun pecah. Sambil memelukku, terbata-bata dia mengungkapkan perasaannya.

“Aku sedih, Ra. Sedih sekali. Aku nggak percaya Ibu telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Aku belum berbuat banyak untuk Ibu, Ra...”
Hatiku terasa ngilu mendengar ucapan Mas Dhyka. Aku tahu apa yang di maksudkan Mas Dhyka.

Dia ingin sekali memberangkatkan Ibu naik haji, karena sudah berkali-kali Ibu mengungkapkan keinginannya untuk menginjakkan kaki di tanah suci. Mas Dhyka memang sudah mulai menabung, tapi Allah berkehendak lain. Sebelum jumlah tabungannya mencukupi, Ibu sudah pergi menghadap Sang pemilik jiwa. Tidak ada yang menyangka kepergian Ibu yang tiba-tiba. Dua hari yang lalu Ibu hanya mengeluh sakit kepala berat. Mas Dhyka dan aku membawanya kerumah sakit. Setelah itu kondisi Ibu cepat sekali drop. Dimulai dengan koma pada malam harinya, dan pada hari kedua beliau di rumah sakit, Allah memanggilnya. Sungguh, keadaan yang tidak pernah kami duga.
“Sabar ya, Mas. Mari kita berdoa untuk Ibu,” kataku sambil menggamit tangannya untuk duduk di sebelah jenazah Ibu. Lalu mengangkat tangan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar Ibu diberikan tempat yang layak di sisi-nya.
Melihat Ibu terbujur kaku, tidak terasa air mataku jatuh.

“Bu, maaf ya. Selama ini Rara belum cukup berbakti sebagai menantu. Rara malahan sering kali menyakiti Ibu dengan berusaha menjauhkan Mas Dhyka dari Ibu.” Aku berkata-kata dalam hati menyesali semua yang pernah terjadi.
Kecemburuanku atas perhatian Mas Dhyka ke Ibu mulai berkurang dan perlahan berhenti ketika Indri, anak kami lahir dan tumbuh menjadi bocah kecil yang menggemaskan dan setelah perbincanganku dengan Ibu pada suatu sore. Tidak pernah terpikir olehku Ibu merasakan kecemburuanku itu. Aku tidak pernah tahu apakah Ibu mengetahuinya dari Mas Dhyka menyimpulkannya sendiri. Suatu sore aku di telepon Ibu.
“Ra, lagi repot nggak?” Suara Ibu di ujung telepon mengejutkanku.
“Nggak. Kenapa Bu?”
“Temenin Ibu ke supermarket yuk. Ada yang mau Ibu beli. Mau’kan temenin Ibu?” tanya lagi.
Aku yang masih terheran-heran atas ajakan Ibu itu, tidak lagi bisa berpikir selain menjawab,”Iya Bu, nanti sore Rara jemput Ibu.”

Sore itu setelah membeli beberapa barang yang di butuhkan di supermarket langganan, Ibu mengajak Indri makan es krim di restoran cepat saji yang ada di sana.Tentu saja Indri menyambutnya dengan suka cita karena di sana ada arena bermain anak-anak yang sangat disukainya.
“Bu, Indri boleh ya main perosotan di sana?”
“Iya, boleh. Tapi setelah Indri habiskan es krimnya ya,” jawabku yang segera disambut suka cita oleh Indri.
Ketika Indri bermain perosotan, Ibu melontarkan pertanyaan yang cukup mengejutkan kepadaku.
“Ra, kamu sayang sama Indri?”

“Ibu...kok nanyanya begitu. Ya jelasnya Rara sayang sama Indri. Kenapa kok Ibu tiba-tiba nanya begitu?”
“Nggak apa-apa Ra. Dulu waktu Dhyka sebesar Indri, seingat Ibu...Ibu hapir tidak mau jauh dari Dhyka biarpun semenit. Apalagi Dhyka’kan anak pertama Ibu.

Senang saja rasanya ada didekat Dhyka, senang kalo Dhyka cari Ibu bila dia butuh sesuatu. Kalo Dhyka sakit, rasanya dunia mau runtuh. Kalau kamu bagaimana Ra? Apa kamu juga merasa begitu ke Indri?”
“Iya Bu. Rara senang banget ngurusin semua kebutuhan Indri. Senang kalau bisa nyium dan meluk Indri.”
“Nikmatilah Ra. Waktu akan capat berlalu, tanpa merasa Indri akan menjadi remaja. Dia akan sibuk dengan teman-temannya. Kemudian dia akan kuliah,kerja, lalu tiba-tiba dilamar oleh laki-laki pujan hatinya.”
“Ah..Ibu ini. Indri’kan baru 4 tahun, Bu. Masih TK.”
Dalam hati aku agak geli juga mendengarkan khayalan Ibu tentang Indri yang sangat jauh.

“Justru itu, Ra. Makanya Ibu bilang...nikmatilah waktumu bersamanya karena tanpa terasa, seperti yang Ibu bilang tadi, waktu cepat berlalu. Dia akan pergi, tidak lagi bisa menghabiskan banyak waktu bersamamu. Dia akan mempunyai dunianya sendiri, keluarganya, kariernya, teman-temannya. Hanya sedikit waktu tersisa untuk kamu, ibunya.
Kamu nantinya akan sering merindukan Indri.” Ibu mengakhiri ucapannya sambil menunduk. Aku sempat melihat Ibu menghapus air mata yang menggantung di sudut matanya.
Aku pun hanya bisa tertunduk mendengar ucapan panjang lebar Ibu itu, bingung harus menjawab apa.

“Ibu bisa bilang begitu karena itulah yang Ibu rasakan, Ra. Waktu terasa berlalu begitu cepat. Tanpa Ibu sadari, Dhyka sudah beranjak dewasa dan sibuk dengan pekerjaannya. Tidak lama kemudian dia minta Ibu melamar kamu. Kalian kemudian pindah. Ibu tidak lagi bisa mengurus Dhyka seperti dulu...karena itu menjadi tanggung jawab kamu. Melakukan hal-hal untuk orang yang kita sayangi itu menyenangkan bukan, Ra?”
“Iya, Ma. Rara senang kalau dibutuhin sama Mas Dhika dan Indri. Kayaknya hidup Rara berguna untuk orang lain.”
Kemudian kami berdua diam sesaat sebelum Ibu melanjutkan percakapan.
“Ra, Ibu tahu Dhyka bukan sekarang milik Ibu sepenuhnya lagi seperti ketika dia masih kecil. Dhyka sekarang sudah punya kamu dan Indri. Ibu mengerti itu, Ra. Hanya saja sabagai seorang ibu, sulit melepas anaknya sepenuhnya.

28 tahun Dhyka berada dalam pelukan Ibu, Kemudian dia pergi. Ibu lagi tidak bisa melihat dia setiap pagi ketika akan memulai aktivitasnya. Tidak lagi bisa menunggu dia pulang setiap sore untuk mendengar cerita-ceritanya tentang apa yang terjadi hari itu. Menurut Rara, salah nggak kalau Ibu sering merindukan hal-hal itu sekarang?” Tanya Ibu sambil menatapku.
Aku terdiam sejenak memikirkan kata-kata Ibu itu. Ya...28 tahun Mas Dhyka hidup bersama Ibu. Setiap hari semua keperluan Mas Dhyka, Ibulah yang mengurus. Aku membayangkan keseharianku dengan Indri sekarang dan kemudian membayangkan apa yang kira-kira akan aku hadapi ketika Indri nanti remaja, dewasa, menikah.
Ya...aku juga pasti akan merasakan apa yang Ibu rasakan. Rindu bersama Indri, sebagaimana sekarang Ibu sering merindukan kehadiran Mas Dhyka. Ah...tiba-tiba aku menyadari kebodohanku selama ini. Cemburu kepada Ibu, menganggap Mas Dhyka tidak menyanyangi aku saat dia sedang memerhatikan Ibu. Tiba-tiba aku menyadari, Mas Dhyka tentu tidak besar begitu saja, tidak akan tumbuh menjadi Mas Dhykaku yang seperti sekarang kalau tidak karena wanita yang sekarang ada di hadapanku ini. Tiba-tiba aku merasa malu. Malu akan tingkah kekanak-kanakanku Aku pun sadar aku belum menjawab pertanyaan Ibu.
“Ya nggak dong Bu. Ibu nggak salah kalau merindukan semua itu. Mas Dhyka juga pasti sering kangen sama Ibu. Buktinya dia sering’kan datang kerumah Ibu atau sekedar telepon. Ibu pasti senang kalau Mas Dhyka datang atau telepon?”
“Ya, tentu saja Ra. Ibu senang kamu mengerti dan tidak marah kalau Dhyka sering menghabiskan waktu dengan Ibu Ra. Terima kasih ya..”
“Ah, Ibu. Masa pakai terimah kasih segala. Sudah seharusnya begitu kok,” jawabku pelan, karena malu pada diriku yang selama ini tidak berpikir sejauh itu. Kecemburuanku telah menutup akal sehatku.

Setelah percakapan kami sore itu aku sering merenungi apa Ibu katakan. Ya...Ibu benar. Kini aku jadi mengerti bahwa tidak seharusnya aku cemburu atas perhatian Mas Dhyka kepada Ibu. Sejak itu aku tidak lagi protes kalau Mas Dhyka mampir kerumah Ibu sepulang kerja. Toh Mas Dhyka juga selalu mengabariku setiap kali dia pergi kesana. Bahkan aku dan Indri mulai rajin menemani Mas Dhyka kerumah Ibu.
“Mbak Rara, tolong Putri dan Fahmi dibelakang sebentar Mbak. Putri mau mempersiapkan keperluan untuk pemakaman Ibu besok.” Suara Putri membuyarkan lamunanku. Aku beranjak dari sisi jenazah Ibu dan mengikuti Putri dan Fahmi ke belakang. 
Keesokannya di pemakaman, kembali aku melihat betapa terpukulnya Mas Dhyka. Air mata terus membasahi pipinya. Ah, Ibu...Ibu harus bangga dan senang karena telah membesarkan seorang anak seperti Mas Dhyka yang menyanyangi Ibu sampai Ibu menghembuskan napas terakhir. Sambil memandangi Mas Dhyka aku memegang erat tangan Indri dan berdoa, semoga Ibu bahagia di sana. Aku juga menyelipkan sebuah doa.
 Doa agar Indri menjadi seorang anak yang menyayangi aku dan Mas Dhyka seperti Mas Dhyka menyayangi Ibu. Ya...seperti Mas Dhyka menyanyangi Ibu. Semoga kelak setelah Indri dewasa, dia mendapatkan suami yang mengerti jika Indri menyayangi dan memperhatikan aku. Doa yang terlalu dini diucapkan, tapi tetap kuucapkan dalam hati.
Semoga Allah mengabulkan. Amin......

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Yang Kedua



DIRGA SALAM. Lelaki berperawakan tinggi kurus dan berkulit sawo matang itu akhir-akhir ini kerap menyita waktu dan perhatian Wati. Gadis itu seperti terperangkap dalam sebuah tempurung yang dindingnya berhiaskan wajah Dirga. Di setiap waktu hanya Dirga yang muncul dalam pikirannya, seperti halnya malam ini ketika ia makan malam dengan keluarganya, yang belakangan diketahui tidak ada hubungan darah dengannya.
Wati adalah anak angkat di keluarga itu. Ketika ia berusia 4 tahun, orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Rara dan Dhyka mengadopsinya. Dhyka, lelaki yang selama 16 tahun ia panggil ‘papa’, dulu adalah rekan kerja orangtuanya.
Ketika itu Rara dan Dhyka sudah memiliki seorang putri bernama Indri. Usianya 2 tahun lebih muda dari Wati. Kini gadis itu tumbuh menjadi gadis cantik yang cerdas dan selalu menjadi kebanggaan keluarga itu.
Tangan mungil Wati mengaduk-aduk nasi dipiringnnya dengan sendok.
“Kok nggak dimakan Wati?”
Wati terlonjak kaget. Ia menatap gadis berambut panjang yang duduk berhadapan dengannya.
“Aku sudah kenyang. Kalian teruskanlah makan, aku mau ke kamar.” ucap Wati sambil bangkit dan meninggalkan ruang makan.
Baik Dhyka, Rara maupun Indri tahu kalau sebenarnya Wati belum memasukkan satupun butir nasi ke dalam mulutnya. Sedari tadi ia hanya mempermainkan sendoknya dan menatap kosong ke depan.
Sampai di kamarnya, Wati mengunci pintu lalu bersandar di sana. Bayangkan lelaki itu kembali memenuhi pikirannya.
“Apa aku benar-benar mencintainya?”
Dirga adalah pribadi yang menyenangkan dan ramah. Ia baik kepada semua orang, termasuk Wati. Mereka bertemu 3 tahun yang lalu, tepatnya satu hari setelah Wati berusia 17 tahun. Wati baru saja berziarah ke makam orang tuanya, sedangkan Dirga berziarah ke makam Aisyah, istrinya yang telah meninggal.
Ketika hujan turun dengan deras. Mereka berteduh di gubuk kecil yang lumayan jauh dari tempat parkir. Wati dan Dhyka larut dalam kesedihan masing-masing, mengenang orang-orang yang telah dahulu meninggalkan mereka.
Hari telah sore ketika hujan mereda.
“Hujan telah reda, seharusnya kesedihan kita juga harus berakhir,” ucap Dirga dengan suara serak. Lelaki itu mendekati Wati yang bersandar pada tiang gubuk dan menatap tetes-tetes gerimis.
Wati mengusap air matanya yang bercucuran.
Kemarin, tepat hari ulang tahunnya yang ke 17, Rara dan Dhyka memberitahunya kalau sebenarnya Wati adalah anak angkat mereka. Ia hancur, benar-benar tak percaya dengan kenyataan hidupnya. Pantas saja Rara dan Dhyka lebih menyayangi Indri daripada dia. Pernah satu kali Wati bertanya tentang ketidakadilan yang ia rasakan, namun Rara hanya berkata, “kamu lebih tua dari Amel, jadi kamu harus banyak mengalah.”
“Apa kamu membawa kendaraan?” tanya Dirga membuyarkan lamunan Wati.
Wati menggeleng, “Tadi aku naik taksi.”
“Mari kuantar pulang.”
Dirga melepas jas hitamnya untuk menutupi kepala mereka daru tetes air hujan yang masih tersisa. Mereka berlari menerobos gerimis.
Di dalam mobil Dirga bercerita tentang Aisyah, seorang gadis cantik dan lemah lembut yang telah lama ia cintai dan akhirnya menjadi istrinya tak lebih dari 7 jam. Mereka menikah 5 tahun yang lalu.
Hari itu setelah resepsi pernikahan, Dirga memboyong Aisyah ke rumahnya. Namun tak lama kemudian, Aisyah mendapat kabar kalau penyakit jantung ayahnya kumat.
Bambang, ayah Aisyah memang tak datang di acara pernikahannya dengan Dirga karena sejak 4 bulan yang sebelum pernikahan mereka Bambang di rawat di rumah sakit.
Aisyah mengganti baju dan segera memsan taksi untuk pergi ke rumah sakit. Berulang kali Dirga menawarkan untuk mengantarnya, namun Aisyah menolak.
satu jam setelah kepergian Aisyah, Dirga mendapatkan kabar kalau Aisyah kecelekaan dan meningngal. Dirga terpukul. Ia depresi dan hampir bunuh diri. Keluarga Dirga berusaha untuk meghiburnya. Mereka berusaha sekuat tenaga. Akhirnya keajaiban pun datang, perlahan Dirga bangkit daru keterpurukan. Butuh waktu 2 tahun untuk membuat lelaki itu bisa menerima kenyataan bahwa Aisyah telah meninggal. Dirga memang kembali, namun tak utuh seperti dulu.
Wati terharu mendengarkan kisah Dirga. Ia tak menyangka lelaki sebaik Dirga memiliki kehidupan yang amat menyedihkan. Dan entah apa yang menggerakkan hati Wati untuk mempercayai lelaki itu dan menceritakan tentang jalan hidupnya yang rumit.
Setelah hari itu, mereka krap bertemu. Sesekali Dirga datang ke rumah Wati, meski Dhyka tidak menyukainya.
Dirga adalah orang pertama yang mau mendengar keluh kesahnya dan memberikan semangat untuknya. Dirga adalah orang pertama yang membuatnya merasa ada dan dibutuhkan. Dirga juga menerima kelebihan dan kekurangan Wati. Persahabatan pun mulai terjalin di antara mereka.
Namun Wati tidak pernah menyangka bahwa sebulan yang lalu Dirga mengajaknya makan malam di restoran dan menyatakan cintanya pada Wati. Ia meminta Wati untuk menjadi lebih dari sekedar sahabat ataupun kekasih.Ia meminta Wati menjadi pendamping hidupnya.
Wati mengambil nafas dan menghembuskannya pelan. Kamarnya yang yang berukuran 5X7 meter itu terasa menyempit dan menghimpit tubuhnya.
“Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”


Wati berjalan menyusuri trotoar. Setengah jam yang lalu ia menelpon Dirga dan memintanya untuk datang di restoran Itali tak jauh dari kantornya.
Siang ini Wati akan memberikan jawaban.
Ia berhenti didepan pintu masuk. Wati menarik nafas, berusaha menenangkan hatinya. Ternyata Dirga datang lebih awal. Lelaki itu melambaikan tangan ketika melihat Wati muncul dari pintu masuk.
Wati segera menghampiri Dirga dan duduk berhadapan dengannya.
“Mau pesan apa?” tanya Dirga.
“Jus lemon.”
Wati menggeleng. Dirga pun tak bertanya lagi dan segera memanggil pelayan. Ia merasa sikap Wati aneh, tak seperti biasanya.
Tak berapa lama pesanan datang.
“Aku ingin menjawab pertanyaanmu sebulan yang lalu di tempat ini.” Wati mengedarkan pandangannya.
Betapam mqsih kuat dalam ingatannya. Sebulan lalu ia dan Dirga makan malam di restoran itu dan persis di meja yang sekarang mereka tempati. Wati tak menyangka kalau malam itu Dirga menyatakan cintanya pada Wati. Ketika itu Wati diam tak menjawab.
Dirga tercengang. Ia berhenti minum dan mendorong gelasnya. Ia menatap Wati.
“Aku bersedia menjadi kekasihmu sekaligus pendamping hidupmu,” Ucap Wati sambil tersenyum.
Dirga ikut tersenyum. Ia meraih jari tangan Wati dan menggenggamnya.
“Terima kasih Bidadari.”
Wati menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ia teringat mimpinya semalam. Dirga memeluknya erat dan lelaki itu memenggilnya bidadari.
“Ehm...tapi aku punya 1 permintaan.”
Dirga menatap kedua mata Wati, “Apa?”
“Kita menikah setelah aku lulus kuliah. Aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk Ibu dan Papa.
Merka telah merawatku sejak kecil.
Dirga menarik tangannya. Senyum diwajahnya pudar. Wati tahu kalau lelaki itu takut kejadian yang sama akan terulang, kehilangan orang yang dia cintai.
“Aku tahu apa yang kamu pikirkan. percayalah Tuhan telah mengatur jodoh setiap umat manusia.
Jika kita berjodoh, kita pasti akan bersatu meski ada ribuan rintangan yang menghalangi cinta kita,” Ucap Wati sambil memegang tangan Wati.
Dirga mengangkat wajahnya dan tersenyum.
“:Aku yakin, kamu adalah bidadari yang Tuhan kirimkan untukku. Aku janji akan menunggumu, sampai kapanpun.”
Wati tersenyum.


Setengah 7 malam, mereka berkumpul di ruang tengah. Indri dan orang tuanya menatap Wati yang masih diam. Gadis itu yang menyuruh mereka berkumpul sebelum makan malam karena ada sesuatu yang akan Wati sampaikan.
“Aku dan Dirga akan bertunangan,” ucap Wati setelah menarik nafas dalam-dalam.
“Katakan itu hanya sebuah gurauan,” ucap Dhyka setengah berteriak.
Wati menunduk. Ia pikir waktu 3 tahun akan merubah keputusan Dhyka untuk menerima Dirga, tapi Wati salah. Bagaimanapun mereka semua tahu alasan Dhyka tidak merestui hubungan Wati dengan Dirga, bahkan ssekedar sahabat sekalipun. Dirga adalah seorang duda berusia 30 tahun dan ia pernah mengalami depresi hebat yang dianggap sakit jiwa oleh semua orang.
“Kami saling mencintai. Tidak ada larangan bagi seorang perempuan dan laki-laki untuk menikah dan berkeluarga. Lagipula dia baik dan sangat menghormati keluarga ini,” ucap Wati dengan lirih.
Dhyka berdiri dan bersiap melayangkan tangannya ke wajah Wati. Rara dan Indri menahan tangannya.
“Lepas, dia harus dihukum,” bentak Dhyka sambil menepis tangan Rara dan Indri.
“Anda tidak berhak untuk menampar saya.”
Wati berlari dan pergi meninggalkan rumah itu. Dulu, lelaki itu menamparnyagara-gar Indri terjatuh ketika mereka bersepeda. Padahal itu sama sekali bukan salah Wati.
Wati berjalan gontai. Air matanya bercucuran dan membasahi wajahnya. Betapa ia telah lelah menjalani hidupnya yang penuh keterasingan....Wati kerap berharap ia bisa bertemu kedua orangtuanya, meski hanya dal mimpi. Ia merindukan kasih sayang yang sebenarnya.
“Kenapa kalian menjadikan aku seperti ini? Membuatku merasa selalu terbuang dan tidak dibutuhkan. Tapi kenapa ketika ada yang memungutku dan mencintaiku dengan tulus, kalian datang dan menarikku dari kebahagiaan itu?”
Hati Wati hancur berkeping-keping. Ia takkan sanggup melepaskan Dirga dan merasakan kehilangan lagi.
Wati berhenti ketika kakinya mulai terasa pegal. Ia duduk di pinggir jalan dan menatap rembulan yang hampir purnama. Ribuan bintang bertaburan di langit.
“Aku iri pada rembulan itu. Meski ia sendiri digelapnya malam, namun bintang-bintang itu selalu menemani dan menyelimuti dengan kebahagiaan. Sedangkan aku?”
Wati meringkuk dan menangis. Sebentar kemudian ia tertidur.
Suara mobil kijang membangunkan Wati. Ia berdiri. Seorang gadis berjaket putih dan memakai celana jins selulut turun dari mobil itu. Rambut sebahunya dibiarkan terurai. Ia menghampiri Wati dan memeluknya.
“Jangan pergi.”
Wati melepaskan pelukan Indri, “Aku nggak pantas tinggal di sana.”
“Tapi itu rumah kita. Sejak kecil kita dibesarkan di sana. Aku juga ingin melihatmu memakai kebaya, bersanding dengan Dirga dan menikah di rumah itu.” ucap Indri dengan suara sesenggukan.
Wati menggeleng, “Mereka nggak setuju. Sudahlah biarkan aku pergi.”
Ia membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Indri.
“Kami setuju, Wati.”
Wati berhenti dan menoleh. Ia mendapati Dhyka dan Rara berdiri di belakangnya. Wati sesenggukan manatap keduanya. Bagaimanapun ia menyayangi keluarga angkatnya itu. Hanya mereka dan Dirga yang ia miliki dan ia tak ingin kehilangan keduanya.
Rara menghampiri Wati dan membelai wajah gadis itu, “Usiamu sudah 20 tahun, sudah dewasa. Kami tak berhak apapun atas dirimu. Hanay saja kalau boleh Ibu meminta, tetaplah tinggal bersama kami.”
Wati memeluk Rara. Dhyka dan Indri ikut bergabung. Sesaat kemudian mereka telah dudk di mobil dan akan segera pulang. Wati tersenyum. Ia merasa bahagia memiliki keluarga itu.
“Kapan kalian akan menikah?” tanya Dhyka sambil melirik Wati dari kaca spion. Mobil itu berhenti ketika lampu merah menyala.
“Setelah aku lulus kuliah.”
“Ide yang bagus.”


Pagi itu Wati ke apartemen Dirga. Ia akan memberitahu Dirga kalau keluarganya telah merestui hubungan mereka. Ia tersenyum membayangkan bola mata Dirga membesar dan mulutnya menganga lebar mendengar berita itu.
Gadis itu merapikan rambutnya yang agak berantakan. Setelah itu ia berjalan berjingkat-jingkat ke kamar Dirga. Dengan hati-hati ia menarik engsel pintu. Ia akan memberi surprise untuk calon tunangannya itu.
“Dirga!”
Semuanya menjadi terbalik seketika. Bukan Dirga yang terkejut mendengar berita Wati, namun malah Wati yang terlomjak kaget. Ia melihat Dirga duduk berdua dengan Indri dan Dirga memegang wajah gadis itu.
Wati menggelengkan kepalanya, “Seharusnya aku percaya pada ucapan mereka. KAMU GILA.”
Dirga melepas pelukan Indri, “Wati bisa aku jelaskan.”
Wati lari meninggalkan apartemen Dirga. ekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Dirga mengejarnya, namun Wati telah jauh pergi.
“Seharusnya aku tak boleh berharap untuk sekedar mencicipi manisnya kebahagiaan. Tuhan menciptakanku untuk terus berkubang dalam lumpur derita. Jadi meski aku berusaha untuk pergi, aku takkan bisa karena inilah takdir. Pada akhirnya aku harus menerima kenyataannya kalau aku tetap seorang pecundang.”
Langkah khaki Wati membawanya ke taman, tempat pelariannya jika ia sedih. Ia mencelupkan kakinya di kolam kecil. Wati menatap restoran Italia, tempat favoritnya dan Dirga.
Kenang-kenangan itu muncul, seolah diputar ulang.
“Aku tahu kamu di sini.”
Gadis itu menyadari kedatangan Dirga. Ia masih menatap restoran itu.
“Kalau kamu masih percaya padaku dan mau mendengarkanku, biarkan aku menjelaskan semuanya.” ucap Dirga sambil mencelupkan kakinya kedalam kolam.
Wati diam tak memberikan tanggapan.
“Indri datang padaku dan memintaku untuk mencintaimu dengan tulus. Ia tak ingin melihatmu sedih dan kecewa. Ia bilang kalau selama ini bangga memiliki seorang kakak yang sabar dan penuh pengertian sepertimu. Ia bangga padamu ketika kamu memilih untuk mencari kebahagiaanmu dan mempertahankan semua yang telah kamu miliki.”
Wati berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu. Ia tak tahu harus mempercayai lelaki itu atau tidak. Ketika telah jauh berjalan, Wati berhenti dan memejamkan mata. Wati baru saja akan membalikkan badan ketika sepasang tangan Dirga melingkar di perutnya.
“Jangan tinggalkan aku. Jika kamu pergi maka aku akan benar-benar mati.”
Wati menangis. Ia membalikkan badan dan membalas pelukan Dirga. Tiba-tiba gerimis turun dan membasahi mereka. Begitu lembut dan indah.
‘Aku bersedia menjadi orang kedua demi bisa singgah di hatimu, Dirga. Karenasekuat apapun aku berlari, aku takkan bisa menghilangkanmu dari hatiku. Aku membutuhkanmu seperti setetes darah yang jika tak kumiliki, aku takkan pernah hidup didunia ini.’
Indri, gadis itu berdiri tak jauh dari mereka. Ia memegang sebuah cincin yang dijadikan bandul kalungnya. Cincin itu pemberian Aisyah sebelum ia meninggal. Indri menangis.
‘Aku hanya ingin mengembalikan semua yang pernah hilang karena aku. Meski tak utuh, tapi paling tidak bisa mengurangi rasa sakit itu. Maafkan aku Wati. Aku tak pernah bermaksud menguasai semua yang seharusnya menjadi milik kita berdua. Juga maafkan aku Dirga, seharusnya kecelakaan itu tak pernah terjadi, seharusnya kalian tidak menderita karena aku.’
Indri melangkah pergi, dan menyesali kalau saja 5 tahun yang ia tidak tergesa-gesa menyeberang, taksi Aisyah takkan terguling dan terbakar karena menghindarinya.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS