RSS
Tampilkan postingan dengan label Alam Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam Bebas. Tampilkan semua postingan

TIM Hore beraksi lagi..!!! (Eps. Bontocani in Air terjun Baruttung)



TIM Hore.. Ya inilah group kami yang terdiri dari beberapa orang yang tidak jelas juga sih adanya tapi yang terpenting selalu hore dan happy tapi ingat Ilahi tentunya.. hehehehe
Berawal dari kepenatan yang mengekang beberapa hari mengawali bulan Desember mengantarkan kami mengutarakan keinginan untuk keluar menantang adrenaline disebuah daerah yang konon katanya daerah terbilang paling ekstrim di daerah kami di Kabupaten Bone yaitu Bontocani yang merupakan kecamatan terluas dan tertinggi yang lebih dari 700 – 1000 mdpl. Yang rencana disebuah desa yang bernama Bontojai salah satu dari 11 Desa lainnya tempat air terjun 7 susun.
Akhirnya kami menyebar informasi disosial media berharap beberapa orang turut ramai sekitar 10 – 15 orang berhubung daerah tersebut belum satupun dari kami yang mengetahui situasinya. Dayat yang mengusulkan daerah itu juga belum tahu jalur menuju air terjun tersebut walaupun pernah tinggal didaerah dekat sana kurang lebih setahun. Tanggal 6 – 7 Desember 2014 itulah tanggal perencanaan kami di lokasi air terjun tersebut namun tanggal 5 kami berempat sudah menuju lokasi dengan harapan bisa survey terlebih dahulu. Semangat pun berkobar mengalahkan sejuta cerita miring orang tentang daerah tersebut, perjalanan dari kota Bone ditempuh ke ibukota Kecamatan Bontocani kurang lebih 2 jam.
Didaerah ibukota kecamatan yang dikenal sebagai Pammusureng kami mulai merasakan hentakan adrenaline yang menggebu-gebu setelah dijemput suasana magrib yang menenangkan hati. Untungnya pernah sebelumnya kedaerah ini jadi menyempatkan sebentar untuk Shalat dan Alhamdulillah sekalian dapat rejeki nomplok kita makan, TIM Hore gitu loh pasti punya keluarga dimana-mana banyak sepupu lain kali plus kakek sembarang kata kak Pay dulu. Hehehehehe.... Pukul 18.40 WITA dengan dibaluri rentetan Doa menguatkan kami untuk memecah kesunyian dan pekat malam itu menuju Desa Bontojai yang berbatasan langsung dengan daerah Malino Kabupaten Gowa. Tekstur jalan menyambut kami dengan berbagai macam tantangan, hindari lubang dapat lubang jalan yang lain penuh lumpur ditepi jurang dikegelapan malam dengan hembusan dinginnya angin malam bersama lambai kerapatan pohon pinus diujung pandangan kami.
Sekitar 1,5 Jam perjalanan kami akhirnya tiba di Bontojai, desa tempat air terjun tujuan kami berada. Berharap malam ini juga bisa langsung ke Lokasi air terjun namun keluarga salah seorang teman yang juga berprofesi sebagai Polisi Hutan menyarankan untuk beristirahat dulu dan berangkat keesokan harinya. Namun, berbagai alasan kami cari agar mau diantar kelokasi tersebut tapi tetap saja beliau menolak karena alasan pertama sih istri beliau dalam keadaan sakit dan mesti mengurus anak-anaknya. Usil plus nekat akhirnya kami berbisik untuk mencari warga lain untuk mengantar kami ke Lokasi air terjun tapi tak kunjung kami temukan titik terang malam itu akhirnya kami mengurungkan niat dan berharap keesokan harinya bisa berangkat secepatnya karena masih beberapa teman yang menyusul kesini yang mengharuskan kami untuk kembali untuk menjemputnya dibawah sini.
Disela istirahat kami beliau sedikit mempertanyakan tujuan kedatangan kami kelokasi tersebut karena menurut beliau belum ada yang pernah bermalam di Lokasi tersebut. Terakhir kurang lebih setahun yang lalu ada yang mengadakan ekspedisi didekat lokasi tersebut dan salah seorang mati mengenaskan akibat ledakan kompor yang mereka gunakan. Selain itu banyak pacet yang usil mengganggu pendaki apalagi memasuki musim hujan seperti ini yang merupakan lintah darat yang terdapat didaun dan paling ditakutkan sih masuk kelubang telinga atau menghisap darah disela-sela pakaian.. iihhh woouuoooww. Takut sudah pasti tapi mau tidak mau hal itu memang harus kita hadapi sebagai seorang penggiat alam bebas. Malam itu kami habiskan ditepian jalan pusat ibukota desa Bontojai ditemani hembusan angin malam diketinggian kurang lebih 800mdpl tak ketinggalan teh gelas sama cemilan, cepuluh, dan cebelas merangkak perlahan masuk kekerongkongan kami. Hehehehehe.. Salam Hore...!!!
Dinginnya suasana merasuk hingga ketulang rusuk membangunkan kami disubuh hari untuk menyegarakan Shalat dan berkemas-kemas. Pagi sekali tuan rumah berkendara meninggalkan rumah, rasa lega mulai terasa karena terbersit dipikiran bahwa beliau hendak keluar mencari salah seorang warga untuk mengantar kami kelokasi Air terjun yang baru kutahu namanya Baruttung. Namun, cukup mengelus dada karena ternyata yang beliau jemput adalah mantri alias orang pinter dikampung eittzz tapi bukan profesor ya untuk mengobati istri beliau. Yaudahlah mungkin bersabar sebentar lagi menunggu seseorang yang mau menjadi Leader kami kesana dan tanpa pikir panjang kami berjalan menghirup udara segar didesa Bontojai sekalian berolahraga sebentar untuk meregangkan otot sebelum track menuju puncak air terjun Baruttung dengan ketinggian sekitar 900mdpl.
Sejenak mengakrabkan diri dengan warga seraya bercakap sebentar tentang kedatangan kami disini dan Alhamdulillah mendapatkan sedikit titik terang tentang jalur yang kami ingin lalui dan membuat kami berani berangkat tanpa leader dari penduduk setempat. Dihangatkan dengan secangkir kopi membantu mencairkan dingin suasana pagi itu dan berangkat sepagi mungkin agar cepat menemukan lokasi dan sesegara mungkin turun lagi untuk menjemput beberapa teman yang menyusul sesudah shalat dhuhur. Aku merasakan sedikit kejanggalan dipagi itu karena teman-teman dengan begitu tergesa-gesa berangkat tanpa berkumpul sejenak untuk berdoa agar dimudahkan disepanjang perjalanan. Sesampainya dirumah terakhir mereka pun bergegas berangkat dengan begitu tergesa-gesanya semakin membuat kegundahan dalam hatiku, sebagai orang tertua diantara berempat disini akupun mengusulkan untuk berdoa sejenak. Maafkan kami ya ALLAH, atas keegoisan dan jiwa brutal kami yang begitu semangat tapi terkadang khilaf dengan lupa menyebut namamu disetiap awal langkah kami.
Sambutan senyuman keramahan pemilik rumah menenangkan suasana hati ini dan beliau pun menunjukkan jalur yang pernah dipakai untuk menuju air terjun Baruttung. Kami berangkat dengan semangat menggebu-gebu tapi kok terbersit sedikit kejanggalan namun terus kuacuhkan karena kutahu ini masih pagi jadi kecil kemungkinan kami kesasar manalagi kami semua berempat baru datang kesini. Salah seorang pun menjadi leader dari kami menapaki jalanan yang sudah mulai tertutup dan ditumbuhi semak belukar. Sekitar 1jam berjalan akhirnya teman-teman terduduk terpaku diujung jalan setapak yang tidak mengarah kesuatu tempat pun. Berniat menerobos dan membuat jalur sendiri dikemiringan lereng 100 derajat serasa bukan ide yang tepat sehingga kami berpencar mencari jalan yang kemungkinan masih menyisakan beberapa tanda menuju air terjun tersebut. Ya ALLAH kami tersesat, aku memutuskan memimpin untuk kembali kelokasi yang jelas turun sejenak untuk memperbaiki pikiran dan suasana hati. Sepanjang jalan turun aku merasakan sesuatu yang tidak beres yakni sifat sombong anggota TIM akhirnya memperbaiki niat seraya berdoa agar diberikan titik terang. Tak menunggu terlalu lama aku dikagetkan dengan seseorang bersama kedua anjingnya yang katanya hendak ketengah hutan mencari sarang lebah untuk diambil madunya karena ini musimnya. Alhamdulillah terima kasih ya ALLAH.
Cucuran keringat membasahi baju, napas tidak teratur menapaki jalan menanjak dilereng gunung menuju puncak air terjun yang salah sedikit bisa terperosot jatuh kejurang yang dialiri derasnya air dari puncak. Kurang lebih 1jam berlalu akhirnya kami berpisah dengan bapak pencari madu dipersimpangan jalan yang katanya menuju puncak air terjun baruttung. Lega dan penuh semangat kami pun berteriak dipuncak air terjun baruttung. Assalamu Alaikum, kami datang dengan niat yang bagus untuk belajar dari Alam mengenal Pencipta agar kami sadar dari kesombongan bahwa betapa kecilnya kami didunia ini menyaksikan keindahan Alam dari puncak sini.
Wah mungkin ini puncak yang disebut keluarga teman yang katanya batu yang agak lapang dibagian tengah dan dikiri kanannya dialiri air apabila debit airnya banyak namun sekarang hanya bagian kanan yang dialiri air karena belum memasuki musim hujan sepenuhnya. Berniat mendirikan tenda karena lokasinya cukup bagus namun sedikitpun tidak ada bekas perapian. Tanyaku dalam hati apakah benar tidak ada yang pernah bermalam disini mengantarku untuk turun kebawah melihat-lihat sebentar sambil mengecek apakah benar tidak pernah ada yang bermalam dilokasi ini. Cukup mudah untuk berjalan karena bebatuan masih terbilang belum terlalu lembab membuatku bisa turun ketingkatan ke-2 dan seterusnya hingga tiba ditingkatan air terjun ke-4 terdapat bekas perapian pertanda pernah ada yang sampai malam disini sekitar kurang lebih 3-5 hari yang lalu.
Berjalan lompat dari batu kebatu dan berperosot menuju kebawah yang hanya bisa menjangkau sampai air terjun tingkatn ke-5 karena 6 dan 7 sudah sangat terjal. Air terjun ke-6 tidak dialiri air karena debit air yang masih sedikit jadi hanya melewati pinggirannya dan tingkatan ke-7 tidak keliatan dari sini. Aku pun kembali ke tingkatan ke-4 melihat sejenak apakah bisa mendirikan tenda dan ternyata pemandangan dari tingkatan ini sangat luar biasa. Subhanallah, indahnya luar biasa dikejauhan sana arah timur laut terlihat bentangan keindahan laut dihiasi oleh deretan pulau sembilan Kabupaten Sinjai serta dibelakang terlihat 3 susun keindahan air terjun. Membuatku bersemangat untuk mengambil Carrier dan bergegas mendirikan tenda dome berhubung cuaca terlihat mendung.
Sarapan sekalian makan siang pun selesai sekitar pukul 10.25 WITA, sinyal HP ternyata bagus dari ketinggian sini sehingga memudahkan kami untuk menghubungi teman-teman yang hendak menyusul. Beras ternyata kelupaan dibawa, tissue basah untuk cuci trangia dan ayam yang udah dipotong-potong menjadi pesanan kami kepada teman-teman menghitung situasi sangat menyenangkan diketinggian kurang lebih 900mdpl menikmati malam minggu diantara 3susun air terjun baruttung dan pemandangan laut dan pulau sembilan. Akhirnya mereka mengabari bahwa sudah berangkat sehingga aku memperkirakan sekitar pukul 14.00 WITA baru akan turun untuk menjemput mereka diibukota desa. Kami beristirahat sejenak ditemani terik matahari diatas batu kami tertidur pulas karena saking capeknya.. ZZzzzzzzzzz....
Tetesan air hujan membangunkanku karena dikagetkan kirain hujan deras padahal barang-barang masih banyak yang belum dikemas kedalam tenda dan segera Shalat Dhuhur. Melanjutkan baring sejenak sebelum turun untuk menjemput teman ternyata bukan ide yang baik karena hujan pun semakin tidak bersahabat dan semakin lebat. Tenda dome kapasitas 4 orang diatas batu pun hanya bisa untuk 2 orang plus barang-barang didalamnya selebihnya kami diluar dibawah hammock yang dibentangkan jadi flysheet. Akupun yang capek jongkok dibawah flysheet memutuskan masuk dibawah batu yang terbilang tidak kena hujan yang boleh dimasukin dengan merayap dan baring disitu selama beberapa saat.
“Uuuuu..” terdengar suara teriakan salah seorang warga yang kayaknya sedang punya aktivitas diatas gunung sini dan akupun membalasnya dengan kode itu. Dikagetkan oleh gonggongan anjingnya ternyata mereka adalah warga yang dari mengambil madu dipuncak hutan mengajak kami berbicara sejenak dibawah gerimis hujan ditingkatan ke-4 air terjun itu. Setelah beberapa saat bersama kami akhirnya merekapun turun kepemukiman dengan melalui jalur dari gunung langsung ketingkatan ke-4 air terjun menyisakan tanya dihati kami tentang jalur tersebut. Betapa tidak jalur awal kedatangan kami disini langsung kepuncak air terjun alias tingkatan pertama yang apabila kita naik dan turun dalam keadaan gerimis seperti ini terbilang cukup ekstrim akhirnya memberanikan diri bersama adikku aku memutuskan mencari jalur tersebut untuk turun menjemput teman yang lain.
Cukup lama kami dijalan karena memasang stringline alias tanda dipohon ataupun ranting agar tidak kesasar karena kemungkinan malam kami baru akan naik lagi dari menjemput teman dibawah sana. Berat rasanya meninggalkan teman disana tapi apa boleh buat masih ada teman yang mesti dijemput dibawah untuk turut meramaikan kebersamaan Tim hore dimalam minggu ini. Terasa aneh sepanjang jalan menurungi gunung itu terasa ada yang lain selain aku dan adikku, gerimis sepanjang jalan semakin menambah suasana yang mencekam tapi aku hanya diam saja seraya mempertebal doa dalam hati. Hufft... akhirnya sampai dibawah tempat motor kami titipkan dirumah paling terakhir dengan tubuh setengah basah kuyub.
“Eloki’ Mabbenni..??” sang pemilik rumah bertanya kepadaku. Beliau mempertanyakan dimana kami hendak bermalam karena menurut para warga setempat diatas itu ada tempat yang paling sakral dan sering terjadi kejadian aneh disana. Buleleng, Allemmerengnge, atau apalah namanya yang hanya aku dengar diujung pendengaranku dan tak mau aku tahu namanya yang seperti lubang agak melingkar disamping air terjun tepatnya dipuncak air terjun. Aku pun terdiam sejenak mengingat kenapa juga aku memang merasa tidak enak dipuncak saat mau mendirikan tenda tadi dan kenapa juga aku bisa memutuskan untuk mendirikan tenda ditingkatan ke-4. Sambung cerita katanya untung datangki sekarang karena musim madu jadi sering-seringjie dilewati sama pencari madu dan terakhir yang kesana berkunjung adalah anak KKN UNHAS tapi sebentar saja diatas karena ada yang sakit dan itupun pulang ada yang ikut sampai didesa.
Lemparan senyuman aku berikan kepada ibu itu seraya mengucapkan terima kasih dan bergegas menyusul adikku yang sudah lebih dulu mengendarai motor menuju ibukota desa dan akupun menggunakan motor teman karena sedikit macet sama motor yang aku kendarai kesini. Cukup geli juga sih ditengkuk ditambah lagi cerita salah seorang warga namun aku cukup berdoa saja berharap kembali naik dengan teman-teman untuk bermalam minggu menikmati kebersamaan TIM HORE. Hehehehehehehe.....
Ternyata teman yang kami jemput hanya 3 orang dari perkiraan 10 orang yang rencana mau datang dan setelah melengkapi beberapa logistik kami berangkat naik pukul 17.37 WITA yang kami perkirakan pasti sampai malam dipuncak sana padahal mereka tidak membawa senter. Aku yang sebagai leader hanya mengandalkan senter dari Handy Talkie dan adikku senter dari HP.nya bersama 3 orang lainnya tanpa penerangan berjalan menapaki jalan setapak yang licin dan gelap dilereng gunung sehingga memakan waktu kurang lebih 2jam sampai dipuncak.
Lembab dan licin sepanjang jalan, terpeleset, jatuh dan tersandung adalah hal yang kami hadapi sepanjang jalan malam itu kami melangkah pasti dikegelapan malam hingga sampai diair terjun tingkatan ke-4 disambut oleh sinar api unggun disamping tenda. Kami bergegas menghangatkan diri dan selebihnya mendirikan tenda yang lain dan segera masak untuk makan malam. Gerak terbatas karena bebatuan licin dan gerimis masih menemani kebersamaan kami hingga jelang pukul 20.00 WITA. Lepas makan malam kami pun duduk untuk bercerita sejenak menikmati secangkir kopi hangat menyaksikan keindahan laut disinari lampu tambang ikan dari pulau sembilan dan dibelakang kami ada 3susun air terjun. Dan ternyata dari cerita warga tadi ternyata yang sesekali kesini adalah mereka yang datang untuk mencari ikan massapi namun tidak sampai bermalam tapi mereka datang sampai tengah malam atau dari tengah malam sampai dini hari disini.
Jujur aku merasa cukup merinding ketika kegelapan malam semakin merangkak naik ketengah malam yang sesekali disinari indahnya rembulan yang keesokan harinya kemungkinan purnama penuh. Satu persatu teman-teman masuk ketenda untuk beristirahat namun aku masih terjaga dengan beberapa teman berharap bisa bertukaran dengan teman yang lain untuk berjaga disamping api unggun. Kini aku tinggal berdua makanya aku memanggil salah seorang teman lagi untuk keluar untuk menemani kami karena aku dikagetkan oleh sosok tinggi besar hitam dari puncak air terjun yang membuatku merinding dan suasana hatiku tidak tentu malam itu.. tapi sedikit bercerita dengan teman untuk sedikit mencairkan suasana itu ditemani kobaran api unggun yang semakin menipis disaat malam mulai turun dari puncaknya. Sekarang pukul 02.14 WITA akupun memutuskan beristirahat dengan suasana hati yang sudah tenang dengan untaian doa dalam hati. Ya ALLAH, aku tahu kami tamu disini dan ada yang lain diantara kami disini maka dari itu jagalah kami dalam lelap ini, amin.
Malam itu pun berlalu sangat indah dan takkan terlupak keindahan itu diiringi suara merdu air terjun mengantarkan mimpi indah akan keagungan Tuhan. Pagi-pagi sekali kami mulai aktivitas berharap bisa pulang secepatnya, mulai dari mandi, masak, dan tak lupa berfose didepan layar. Sarapan roti bakar memberi energi luar biasa untuk terus beraktivitas mengantarkan kami bergerak menuju air terjun keatas dan kebawah untuk mengambil gambar. Inilah acara inti dari kedatangan kami yakni mengambil gambar dengan iringan sejuta senyuman didepan kamera. Dan setelah semuanya mulai lelah dengan sejuta fose akhirnya mulai membongkar tenda dan turun dari puncak.

Sampai jumpa air terjun Baruttung, terima kasih atas sejuta goncangan adrenaline yang engkau berikan dan mohon maaf atas kekhilafan kami sepanjang aktivitas disana. Yang paling membuatku terkejut karena aku merasa sesuatu mengikuti kami sampai dirumah terakhir tempat menitipkan motor, aku terdiam sejenak dan tiba-tiba bulu kuduk jadi merinding sampai kami berpose dekat motor sebelum pulang dia masih ada sehingga membuat keceplosan berbicara bahwa biarlah aku paling belakang jalan karena mau baca-bacai dulu jalan. Hehehehe... Doa dipenghujung keberangkatan kami menuju desa terakhir kami haturkan sepenuh hati berharap bisa kembali dengan selamat tanpa ada yang saling merasa terganggu.. Wassalam.. SALAM HORE....!!!!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

NAVIGASI DARAT


Navigasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk menentukan posisi dan arah. Apabila akan melakukan perjalanan ke kawasan hutan atau pun ke daerah pegunungan yang belum kita kenali maka kita wajib menguasai dahulu teknik dasar navigasi darat. Dengan menguasai teknik navigasi darat kita akan lebih yakin akan jalur yang ditempuh dan juga menghindarkan dari tersesat di tengah hutan.
Ilmu navigasi darat meliputi 3 teknik yaitu :
  1. Teknik Dasar Peta
  2. Teknik Dasar Kompas
  3. Teknik Dasar Orientasi Medan
1. TEKNIK DASAR PETA
Peta adalah gambar seluruh atau sebagian dari permukaan bumi yang diproyeksikan ke dalam suatu bidang datar dengan perbandingan tertentu (skala).
1.1. Garis Paralel dan Meridian Peta
Dengan anggapan bahwa bumi itu berbentuk bulat lonjong/elips maka dibuatkanlah sebuah sitem jaring yang didasarkan pada garis khayal yang dibuat menembus bumi dari kedua kutubnya, yaitu kutub utara dan kutub selatan. Semua garis tersebut merupakan garis lingkaran/paralel dan garis membujur/meridian. Garis yang melintang/paralel membagi bumi menjadi dua bagian, yaitu bagian utara yang disebut lintang utara dan bagian selatan disebut lintang selatan. Ditengah kedua bagian ini terdapat garis yang membaginya yaitu garis khatulistiwa yang berfungsi sebagai poros pembagi kedua bagian bumi utara dan bumi selatan. Adapun garis meridian juga membagi bagian timur atau disebut bujur timur dan bagian barat yang disebut bujur barat. Yang menjadi garis meridian 0° nya adalah garis khayal paralel dan meridian yang melintasi kota Greenwich. Kedua garis khayal paralel dan meridian ini selalu dinyatakan dalam ukuran derajat.
Contoh cara penulisan dan pembacaan garis paralel dan garis meridian sebagai berikut :
Ditulis : 1°60’60” ( “satu derajat, enam puluh menit, enam puluh detik” )
1.2. Jenis Peta
Sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No. 143 tahun 1974, jenis peta terdiri dari :
  • Peta Kelas Hutan skala 1 : 25.000
  • Peta Bonita skala 1 : 25.000
  • Peta Baku skala 1 : 10.000
  • Peta Perusahaan skala 1 : 10.000
  • Peta Letak Hutan skala 1 : 100.000/1 : 200.000
  • Peta Kelas Perusahaan skala 1 : 100.000/1 : 200.000
  • Peta Resort Polisi Hutan skala 1 : 100.000/1 : 200.000
  • Peta Tanah/Hujan BOERAMA skala 1 : 100.000/1 : 200.000
  • Peta Hujan Dr. FERGUSON skala 1 : 100.000/1 : 200.000
  • Peta Geologi skala 1 : 100.000/1 : 200.000
  • Peta Jalan Angkutan skala 1 : 100.000/1 : 200.000
  • Peta Detail Tinjau Tanah skala 1 : 5.000/1 : 10.000
Sedangkan untuk kalangan militer menggunakan jenis peta topografi (skala 1 :10.000/1: 5.000) karena mempunyai banyak keistimewaan yaitu relief permukaan bumi, hutan, pemukiman, jaringan jalan, sungai, sawah dan lainnya.
1.3. Bagian – Bagian Sebuah Peta
ü  Judul Peta :
Menunjukan lokasi yang dimaksud peta tersebut dan biasanya terletak di bagian tengah atas dari peta. Pada beberapa peta cetakan baru judul peta terletak di sebelah kanan atas bagian peta.

ü  Keterangan Pembuatan Peta :
Setiap peta terutama peta topografi selalu mencamtumkan data tahun pembuatannya karena sangat diperlukan untuk menghitung sudut variasi magnetisnya. Kutub magnetis selalu berubah setiap tahunnya. Ini disebabkan oleh rotasi bumi. Di Indonesia biasanya kutub magnetis peta topografinya selalu bergeser ke arah timur, variasi ini dinamakan ‘deklinasi’ dan sangat berpengaruh terhadap perhitungan dalam menggunakan peta dan kompas.

ü  Nama Pembuat Peta :
Biasanya tercantum di bawah kolom legenda peta.

ü  Nomor Peta :
Nomor peta berguna untuk memudahkan kita mencari suatu peta.

ü  Skala Peta :
Adalah perbandingan jarak mendatar antara 2 titik pada peta terhadap jarak mendatar di lapangan. Contoh skala 1 : 25.000 artinya adalah pada peta berjarak 1 cm maka jarak sebenarnya dilapangan 250 meter.
Jenis
Peta Topografi
Ciri-ciri
Pembuat/penerbit
Bahasa
Warna
Peta Topografi
Lama
Diterbitkan oleh Pemerintah Belanda (Sebelum PD-2)Bahasa BelandaCetakan berwarna Hitam
Peta Topografi
Peralihan
Di terbitkan oleh US ARMY (Pada saat PD-2)Bahasa Belanda dan InggrisCetakan berwarna Biru
Peta Topografi
Baru
Di terbitkan oleh BakorsurtanalBahasa IndonesiaCetakan berwarna Biru, sekarang beraneka warna

Rumus (skala = jarak di peta : jarak dilapangan)

ü  Legenda Peta :
Legenda peta adalah gambar bagian-bagian medan atau benda-benda medan yang di gambarkan dengan tanda-tanda tertentu yang mempunyai bentuk dan warna berbeda. Atau dikenal juga dengan istilah bahasa peta yang berfungsi untuk lebih memperjelas dalam membaca peta.

ü  Utara Peta :
Adalah bagian atas dari peta yang ditunjukan dengan simbol/tanda panah dengan hurup U (utara)/N (north) di ujungnya. Utara peta disebut juga Grid North, utara peta ini sangat perlu di ketahui karena sering digunakan dalam berorientasi medan.

1.4. Menentukan Suatu Lokasi Di Peta
Menentukan posisi suatu lokasi di peta dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu sebagai berikut :
  1. Cara kordinat geografi
Sistim kordinat geografi ini adalah suatu sistim untuk menentukan kedudukan suatu titik atau tempat di permukaan bumi (dalam bidang lengkung). Sistim ini dinyatakan dalam derajat dengan meridian Greenwich sebagai lintang 0°. Sistem ini dipakai saat menggunakan GPS Receiver.
Contoh : lokasi Tanaman Jati petak 1 berada pada 6°12’ LS dan 130°45’ BT.

  1. Cara kordinat peta
Sistem ini adalah untuk menentukan kedudukan suatu titik/tempat pada suatu peta. Lembar peta di bagi atas garis-garis kordinat, yaitu garis horizontal dan garis vertikal (berbentuk kotak bujur sangkar). Garis mendatar (sumbu X/absis) nomor urut dari barat ke utara.
Kordinat peta dinyatakan dalam satuan panjang. Ada dua cara untuk menyatakan kordinat peta yaitu :
  1. Cara 4 angka : digunakan untuk memperlihatkan posisi suatu tempat yang cukup lebar, misalnya untuk menunjukan lokasi tanaman, lokasi tebangan dan sebagainya
  2. Cara 6 angka : digunakan untuk menunjukan lokasi yang sempit, misalnya lokasi pos pamhut, rumah dinas dan sebagainya. Jarak 50 meter (sisi bujur sangkar dibagi 5 bagian).

1.5. Perhitungan dan Pengukuran Jarak
Ada dua cara perhitungan yang bisa di pakai :
  • Pada garis yang lurus dan mendatar bisa dipakai penggaris. Caranya panjang garis diukur dengan menggunakan penggaris lalu dikalikan dengan skala peta. Rumusnya : PG x S = PS
(PG = panjang garis yg diukur oleh penggaris, S = skala peta, PS = panjang sebenarnya).

  • Garis yang berbelok-belok panjangnya bisa dihitung dengan kurvimeter atau bisa juga menggunakan tali/benang. Caranya sebagai berikut :
ü  Dengan kurvimeter ikuti garis yang berbelok-belok tersebut dengan roda kecil kurvimeter. Kemudian lihat hasilnya sesuai skala peta pada tabel di kurvimeter.
ü  Dengan benang letakan dengan tepat dan ikuti garis yang berbelok-belok kemudian ukur panjang benang, hasilnya kalikan dengan skala peta.

2. TEKNIK DASAR KOMPAS
Kompas adalah peralatan yang paling dikenal dan paling populer didunia sebagai alat penunjuk arah. Kompas mempunyai jarum yang selalu menunjukan arah utara (utara kompas). Kompas berbentuk bulat dan mempunyai 32 arah mata angin dengan garis pembagi derajat dari 0° sampai 359°. Arah yang ditunjukan oleh jarum kompas disebut arah medan magnet bumi, bukan arah kutub yang sebenarnya.

2.1. Bagian Kompas
2.1.1.  Jarum Kompas
Jarum kompas merupakan bagian yang terpenting pada sebuah kompas. Jarum ini dibuat dengan menggunakan magnet, agar jarumpada kompas tidak berkarat gunakan cairan bening atau yang disebut juga cairan antistatic. Pada umumnya juga jarum kompas dilapisi dengan fosfor agar bisa terlihat disituasi yang gelap.
2.1.2.  Piringan Derajat
Didalam kompas ada lingkaran yang terdiri atas garis-garis dan dikenal dengan garis pembagi skala derajat, cara membacanya di mulai dari arah utara berputar searah jarum jam.
2.1.3.  Skala Piringan Derajat.
Ada bermacam-macam skala piringan derajat. Pembagian derajat International atau standarnya adalah seperti sudut lingkaran yaitu 360°. Kompas militer mempunyai skala 6.000’ : 6.300’ atau 6.400’.
2.1.4.  Rumah Kompas
Merupakan tempat dari bagian-bagian kompas. Didalam rumah kompas juga diberi cairan bening untuk membuat jarum kompas bekerja lebih baik juga sebagai anti karat berfungsi juga melindungi kompas terutama dari suhu antara -4° C sampai 50° C, sehingga dalam rentang suhu tersebut kompas masih dapat bekerja dengan sempurna.

2.2. Jenis Kompas
2.2.1.  Kompas Bidik/Kompas Prisma
Kompas jenis ini sebagian besar digunakan oleh kalangan militer dan juga oleh kalangan umum.
2.2.2.  Kompas Orientasi
Kompas orientasi sudah dilengkapi dengan busur derajat dan penggaris. Menggunakannya sangat mudah, terkadang juga dilengkapi alat bidik. Banyak digunakan dikalangan penggemar mountinering dan orientinering. Kompas ini juga dikenal dengan nama lain yaitu kompas sunto atau kompas silva.

2.3. Penggunaan Kompas
Dalam menggunakan kompas kita harus memperhatikan beberapa hal yang dapat mengganggu cara kerja kompas agar akurasi kompas dapat terjamin, sebagai berikut :
ü  Kawat listrik tegangan tinggi (gunakan kompas dengan jarak diatas 60 meter dari kawat listrik tegangan tinggi agar terhindar dari pengaruh medan magnet arus listrik).
ü  Kawat Telegraf (ambil jarak lebih dari 40 meter dari kawat telegraf)
ü  Jauhkan dari benda-benda logam (pisau, jam tangan, kepala ikat pinggang, gelang/cincin)

  • Tata cara menggunakan kompas prisma
ü  Buka tutup kompas dan posisikan tutupnya hingga tegak lurus.
ü  Tarik cincin untuk jempol.
ü  Masukan ruas pertama jempol kanan ke dalam cincin tersebut.
ü  Telunjuk sejajar dan memegang penutup yang berdiri tegak, jari-jari lain memegang penutup kompas.
ü  Lengan lurus ke depan.
ü  Bisa juga meletakan kompas pada tongkat statis.
ü  Dekatkan kompas ke depan mata.
ü  Untuk mencari tanda/titik yang dijadikan patokan dalam membidik pilih benda yang jauh tetapi jelas terlihat dan tidak terhalang, hasil bidikan angkanya bisa dilihat pada kompas. misalnya angka 40 maka di sebut azimut 40°
ü  Kemudian bergerak menuju titik yang telah di bidik oleh kompas tadi.
ü  Setelah sampai di titik yang dituju kemudian bidik titik berikutnya, demikian seterusnya secara berulang.
ü  Apabila dalam perjalanan bernavigasi kita mendapat rintangan yang sangat sukar untuk dilalui misalnya : danau, tebing curam, bebatuan besar, rawa-rawa, hutan yang rapat/lebat, semak belukar yang berduri, sungai deras/dalam dan lain-lain. Maka untuk mengatasi rintangan tersebut kita menggunakan cara sebagai berikut :
v  Mengatur peta (samakan utara peta dan utara pada kompas)
v  Tentukan titik awal (titik A) pada rintangan yang dihadapi, misalnya tujuan yang dituju mempunyai sudut kompas/azimut 315°.
v  Dari titik A ini kita akan berbelok ke kanan menuju titik B, lalu tambahkan sudut kompas 90° dengan memutar rumah kompas searah jarum jam hingga menunjuk angka 45° kemudian bergerak sesuai dengan sudut kompas tersebut sambil menghitung jarak hingga sampai pada titik B.
v  Dari titik B kita berbelok lagi ke kiri ke arah titik C lalu kurangi sudut kompas 90° dengan memutar rumah kompas berlawanan dengan arah jarum jam hingga menunjuk angka 315° kemudian bergerak sesuai dengan sudut kompas tersebut sampai rintangan berhasil dilewati.
v  Dari titik C kemudian kita belok lagike arah titik D lalu kurangi sudut kompas 90° dengan cara memutar rumah kompas berlawanan dengan arah jarum jam hingga menunjukan angka 225° kemudian bergeraklah sesuai dengan sudut kompas tersebut ke arah titik D sambil menghitung jaraknya (harus sama dengan jarak dari titik A ke titik B).
v  Sampai di titk D tambahkan sudut kompas 90° lagi hingga sudut kompas sama saat sebelum melakukan putaran mengelilingi rintangan yaitu 315°.
Hal yang akan mempermudah kita adalah dengan menandai titik awal kita berbelok (titik A) agar saat sampai pada titik D kita bisa mengukur sudut titik A dari titik D, yaitu nilai back azimutnya 135°. ((back azimut adalah bila jumlah sudut kompas titik yang dicari lebih dari 180° maka untuk mendapatkan nilai back azimut adalah jumlah sudut kompas titik tersebut dikurangi dengan 180°. Dan apabila jumlah sudut kompas yang dicari kurang dari 180° maka untuk mendapatkan nilai back azimutnya adalah jumlah sudut kompas titik tersebut harus ditambahkan dengan 180°.)
Alat bantu navigasi lainnya :
v  Altimeter : alat untuk mengukur ketinggian, alat ini bekerja berdasarkan tekanan udara yang berkurang sesuai dengan bertambahnya angka ketinggian.
v  Kurvimeter : alat ini untuk mengukur jarak di peta, cara kerjanya dengan menggulirkan roda kecil yang akan menggerakan jarum penunjuk yang menunjukan jarak berdasarkan skala peta.
v  Protractor : alat bantu saat kita melakukan ploting/sket dipeta setelah mendapatkan sudut kompas/azimut.


  1. 3. TEKNIK DASAR ORIENTASI
Kemampuan orientasi medan sangat diperlukan oleh kita yang sering beraktifitas di kawasan pegunungan atau alam bebas. Orientasi medan adalah kemampuan dalam mengenali tanda-tanda alam yang ada di lapangan dan mencocokanya dengan peta. Sebelum memulai perjalanan memasuki kawasan hutan atau pegunungan ada baiknya untuk mengetahui terlebih dahulu posisi awal di peta atau minimal untuk mengenali beberapa tanda alam yang bisa dijadikan patokan selama perjalanan. Tanda-tanda alam yang dimaksud adalah bentangan alam yang cukup mencolok sehingga mudah di ingat misalnya : gunung atau bukit, lembah, pertemuan anak sungai, muara sungai, delta sungai, batu besar, alur, kelokan jalan, ujung desa, batas hutan dan lain-lain.
Sebelum memulai orientasi medan dengan bantuan peta dan kompas maka utara peta dan utara kompas harus disamakan (disejajarkan) terlebih dahulu.
Untuk mendapatkan informasi dalam orientasi medan seperti nama sungai, nama bukit, nama lembah, nama tempat khas dan lainnya yang terdapat di peta dengan posisi sebenarnya di lapangan kita bisa meminta bantuan pada penduduk setempat. Setelah kita punya informasi yang cukup barulah kita bisa melakukan langkah-langkah orientasi medan sebagai berikut :
  • Carilah daerah yang terbuka agar pandangan kita bisa melihat dan mengenali tanda-tanda alam yang mudah di ingat.
  • Letakan peta dihadapan kita pada bidang yang rata.
  • Samakan utara peta dan utara kompas dengan cara menghadapkan arah atas peta ke arah utara dan letakan kompas di atasnya. Kemudian samakan garis tegak lurus pada peta sama lurus dengan jarum kompas, dengan demikian kita bisa membaca bentangan alam yang ada di depan kita.
  • Resection/mencari tanda-tanda alam yang ada di daerah sekitar kita kemudian temukan atau samakan dengan yang ada di peta, minimal ada dua buah tanda alam.
  • Ingatlah tanda alam ini baik bentuk dan tempatnya dilapangankemudian beri tanda pada peta.
Setelah memahami penggunaan peta, kompas dan orientasi medan maka gabungan ketiga teknik tersebut bisa kita aplikasikan dalam melakukan aktifitas di alam bebas atau pegunungan, baik pada saat melaksanakan tugas pekerjaan lapangan maupun dalam menyalurkan hoby bertualang di alam bebas (adventure mounteenering).
Untuk menguasai teknik navigasi darat dengan baik rajin-rajinlah mempelajarinya dan seringlah berlatih. Semoga bermanfaat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEARCH AND RESCUE II



I.      PENGETAHUAN DASAR SAR
1.   Pengantar SAR dan Filosofi SAR
2.   Organisasi SAR
3.   Organisasi Operasi SAR

II.     MFR (MEDICAL FIRST RESPONDER)
1.   Pengantar MFR dan Referensi Anatomi
2.   Penilaian Korban
3.   Bantuan Hidup Dasar dan Resusitasi Jantung Paru
4.   Perdarahan dan Syok
5.   Cedera Jaringan Lunak dan Organ Dalam
6.   Cedera Alat Gerak
7.   Cedera Kepala, Tulang Belakang, dan Dada
8.   Luka Bakar dan Kedaruratan Suhu/Lingkungan
9.   Pemindahan Korban

III.   EXPLORER SEARCH AND RESCUE (ESAR)
1.   Teknik Pencarian
2.   Membaca Peta dan Navigasi Darat
3.   Survival
4.   Perlengkapan, Pakaian, Packing dan Makanan  (PPPM)

IV.    KOMUNIKASI SAR
1.   Sistem Komunikasi SAR
2.   Pengoperasian Radio

V.      TEKNIK EVAKUASI DI DARAT
1.   Safety Kerja Di Lingkungan Vertikal dan Abseilling
2.   Penggunaan Peralatan dan Perawatannya
3.   Pengetahuan Tali, Perawatan, dan Pembuatan Simpul
4.   Anchoring dan Belaying
5.   Ascend dan Descend
6.   One Person Rescue Technique
7.   High Angle Lowering (Inside & Overhead Anchor)
8.   Lifting/Hauling System (Mechanical Advantage System)
9.   Highline & Slope Evacuation
10.  Teknik Dasar Pemanjatan

VI.    PROSEDUR OPERASI HELLY
1.   Karakteristik Helly dan Safety Rule
2.   Helipad, Marshailing dan Teknik Rappeling

VII.  PERTOLONGAN DI AIR
1.   Persyaratan Personil Penolong Di Air
2.   Metode Pertolongan Di Air
3.   PFD (Personal Floating Device) dan Self Rescue
4.   Akses Ke Korban dan Operasional Perahu Karet
5.   Pengenalan Motor Tempel
6.   Defends dan Release
7.   Teknik Pertolongan/Penyelamatan

VIII. SARANA DAN PRASARANA
1.   Rescue Truck dan Kendaraan Operasional Lainnya
2.   Peralatan SAR Darat
3.   Peralatan SAR Laut
4.   Radio Komunikasi SAR


ORGANISASI DAN MANAJEMEN SAR

ORGANISASI SAR
Pengertian
SAR merupakan singkatan dari Search And Rescue yang mempunyai arti usaha untuk melakukan percarian, pertolongan dan penyelamatan terhadap keadaan darurat yang dialami baik manusia maupun harta benda yang berharga lainnya.
Hakekat SAR
SAR merupakan kegiatan kemanusiaan yang dilakukan secara suka rela dan tanpa pamrih dan merupakan kewajiban moril bagi setiap individu yang terlatih untuk melakukan pertolongan terhadap korban musibah secara cepat, tepat dan efisien dengan memanfaatkan sumber daya/potensi yang ada, baik sarana dan prasarana maupun manusia yang ada.
Perkembangan Organisasi SAR
Semenjak terbentuknya pada Tgl. 28 februari 1972 dan dalam perkembangannya, organisasi SAR telah mengalami beberapa kali perubahan yang di lakukan oleh pemerintah untuk lebih mengoptimalkan organisasi SAR. Adapun perubahan – perubahan yang pernah dilakukan adalah;
Keppres No. 11 Thn. 1972. di sebutkan bahwa BASARI ( Badan SAR Indonesia) mempunyai susunan organisasi yang terdiri dari Pimpinan, Pusat Kordinasi SAR Nasional (PUSARNAS), Pusat Kordinasi Rescue, Sub–Sub Pusat Kordinasi Rescue serta Unsur – Unsur SAR.
Keppres No. 44 Thn. 1974. Di jelaskan antara lain bahwa PUSARNAS (Pusat SAR Nasional) berada di bawah Departemen Perhubungan.
Keppres No. 28 Thn. 1979 . di jelaskan bahwa BASARI termasuk anggota BAKORNAS PBA (Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Alam).
Keppres No. 47 Thn 1979. PUSARNAS diganti menjadi BASARNAS (Badan SAR Nasional).
Perubahan PUSARNAS menjadi BASARNAS di sertai pula dengan perubahan eselon dari eselon II menjadi eselon I atau setingkat Direktorat Jenderal. Dan untuk kelancaran tugas – tugas di lapangan, Menteri perhubungan telah mengeluarkan instruksi bahwa Kepala BASARNAS ditunjuk sebagai kuasa ketua BASARI untuk tugas – tugas di lapangan.
BASARNAS
BASARNAS mempunyai tugas pokok untuk membina dan mengkoordinasikan semua usaha dan kegiatan pencarian, pemberian pertolongan dan penyelamatan sesuai dengan peraturan SAR nasional dan Internasional terhadap manusia ataupun benda berharga lainnya.
Kantor Koordinasi rescue (KKR)
Mempunyai tugas pokok untuk menyelenggarakan suatu koordinasi Rescue guna mengkoordinir semua unsur dan fasilitas SAR untuk kegiatan di wilayah tanggung jawabnya.
TINGKAT KEADAAN DARURAT
Dalam SAR dikenal adanya 3 tingkat keadaan darurat:
1.    Inserfa
2.    Destresfa
3.    Alertfa
KOMPONEN SAR
Sebelum di aktifkannya suatu kegiatan operasi SAR, tentunya harus di dahului dengan adanya berita suatu musibah atau sesuatu yang menghawatirkan atau di khawatirkan akan terjadi musibah.
Penyelenggaraan operasi SAR akan berlangsung dengan baik bila di dukung oleh komponen – komponen SAR yang meliputi ; organisasi, fasilitas, komunikasi, medik dan dokumentasi.
1.    organisasi
Organisasi dalam misi SAR akan dibentuk dalam jangka waktu tertentu demi kelancaran koordinasi dan pengendalian unsur-unsur SAR yang ada hingga kegiatan menjadi efektif dengan hasil yang optimal. Organisasi ini akan bubar dengan sendirinya apabila operasi SAR telah dinyatakan selesai. Untuk itu perlu diketahui tugas dan tanggung jawab serta hubungan dari setiap unsur SAR.
1.
a.    SC (SAR Cordinator)
Adalah pejabat yang mampu memberikan dukungan kepada KKR dalam menggerakkan unsur-unsur operasi SAR karena jabatan dan kewenangan yang di milikinya. Kemudian unsur-unsur ini diserahkan kepada SMC untuk di gunakan dalam operasi SAR.
1.
a.    SMC (SAR Mission Coordinator)
Adalah pejabat yang di tunjuk oleh kepala BASARNAS/KKR karena memiliki kualifikasi yang di tentukan atau telah mengikuti pendidikan sebagai seorang SMC yang di akui.
SMC akan mengkoordinasikan dan mengendalikan operasi SAR dari awal sampai akhir.
Tugas dan tanggung jawab SMC:
1. Mendapatkan informasi tentang musibah.
2. Mendapatkan informasi tentang cuaca.
3. Menentukan/membagi areal pencarian dan cara serta fasilitas yang akan di gunakan.
4. Mengadakan debriefing terhadap unsur-unsur SAR yang akan dilibatkan.
5. Mengevaluasi setiap perkembangan (berdasarkan data-data yang di terima).
6. Melaporkan kegiatan secara teratur ke BASARNAS/KKR.
7. Mengatur dropping perbekalan.
8. Mengadakan koordinasi dengan KKR tetangga bila areal pencarian tidak terbatas pada satu wilayah SAR saja.
9. Menyarankan penghentian pencarian bila di pandang perlu.
10. Membebaskan unsur SAR atau menghentikan kegiatan bila bantuan mereka tidak di butuhkan.
11. Membuat laporan akhir perihal hasil operasi SAR yang telah dilaksanakan.
Pada umumnya pengendalian SAR di lakukan di KKR namun bila tidak memungkinkan, SMC dapat berpindah sementara ke daerah yang lebih dekat dengan lokasi operasi dan mengendalikan dari daerah tersebut.
c. OSC (On Scene Commander)
OSC adalah pejabat yang di tunjuk oleh SMC untuk melaksanakan sebagian tugas SMC di lapangan. Persyaratan pejabat OSC sama dengan persyaratan seorang pejabat SMC. OSC melaksanakan tugas sebatas yang di delegasikan kepadanya. Hal ini biasanya di lakukan bila lokasi pencarian sulit untuk di kendalikan secara langsung oleh SMC atau SMC merasa perlu adanya OSC untuk membantu kelancaran tugas-tugasnya.
d. SRU (Search And Rescue Unit)
SRU adalah unsur SAR yang di operesikan dalam kegiatan SAR dan mengikuti pentahapan penyelenggfaraan operasi. SRU dapat berasal dari berbagai organisasi/instansi yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan operasi SAR.
STRUKTUR ORGANISASI MISI SAR
SC >>> SMC >>> SRU atau SC >>> SMC >>> OSC >>> SRU
2. Fasilitas
Yang termasuk dalam fasilitas SAR adalah semua pendukung penyelenggaraan dalam kegiatan operasi SAR, dapat berupa fasilitas milik pemerintah, swasta, perusahaan, kelompok/organisasi masyarakat maupun perorangan. Jenisnya dapat berupa personil terlatih, kendaraan, alat komunikasi dll.
3. Komunikasi
Komukasi akan berperan dalam penyampaian informasi dari satu unit ke unit lainnya secara cepat dan akan lebih memudahkan dalam pengendalian operasi terlebih dalam keadaan emergency.
4. Pelayanan Darurat Medik
Dalam pelaksanaan operasi SAR sangat diperlukan adanya pelayanan darurat medik untuk memberikan pertolongan pertama bila ada korban yang membutuhkan sebelum di tangani oleh pihak yang lebih berkompeten. Pelayanan ini juga di butuhkan pada saat melakukan evakuasi dan mobilisasi korban.
5. Dokumentasi
Dokumentasi berguna untuk memberikan data dan keterangan serta analisa dari informasi misi SAR yang diterima termasuk mulai dari tahap kekhawatiran sampoai tahap konklusi misi, khususnya catatan baik secara tulisan atau visual. Ini merupakan bahan untuk evaluasi dan pedoman untuk kegiatan selanjutnya
SAR pada hakekatnya adalah kegiatan kemanusiaan yang dijiwai falsafah Pancasila dan merupakan kewajiban bagi setiap Warga Negara Indonesia. Kegiatan tersebut meliputi segala upaya dan usaha pencarian, pemberian pertolongan, dan penyelamatan jiwa manusia dan harta benda yang bernilai dari segala musibah baik dalam penerbangan, pelayaran, bencana maupun musibah lainnya.

Dari batasan  pengertian dan hakekat SAR diatas, jelas bahwa kegiatan SAR yang utama adalah pelaksanaan operasi. Namun dalam kegiatannya, pelaksanaan operasi hanya akan bisa berjalan dengan efektif dan efisien apabila didukung oleh pembinaan SAR yang mantap. Pembinaan SAR yang dimaksud adalah kegiatan atau tindakan yang berhubungan dengan perencanaan, penyusunan, pembangunan/pengembangan, koordinasi, pengerahan, penggunaan, dan pengendalian terhadap unsur/sarana SAR agar tercapai tingkat kemampuan dan kesiapan operasional yang dipersyaratkan.

ARTI PENTING EKSISTENSI SAR
Pada dasarnya kegiatan SAR ini dilaksanakan oleh Negara-negara diseluruh dunia, oleh sebab itu pengaturan mengenai SAR telah disepakati juga dalam konvensi Internasional yang tentunya akan mengikat bagi Negara-negara yang telah meratifikasinya. Konvensi Internasional dimaksud adalah :
1.    Adanya ketentuan dari ICAO (Internasional Civil Aviation Organization) yaitu Organisasi Penerbangan Sipil Internasional dalam Konvensi Chicago, 1944 pada Pasal VI tentang Internasional Standard and Recommended Practices Annex 12 “Search and Rescue”, antara lain berisi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan SAR yang meliputi organisasi, tugas, dan kerja sama dengan Negara-negara tetangga.
2.    Adanya ketentuan dari IMO (International Maritime Organization) atau Organisasi Pelayaran Inernasional, sesuai dengan Konvensi SOLA (Safety of Live at Sea) 1974 yang menentukan bahwa Negara memiliki kewajiban untuk membentuk sistim pengawasan/penjagaan pantai dan melakukan penyelamatan apabila terjadi kecelakaan di wilayah perairannya.
3.    Dengan adanya ketentuan internasional yang bersifat mengikat tersebut, Negara wajib memiliki organisasi SAR yang mampu untuk menangani musibah penerbangan dan pelayaran di wilayah tanggung jawabnya sesuai dengan petunjuk teknis yang tertuang dalam IAMSAR Manual.
4.    Apabila Negara tidak bisa memberikan pelayanan di bidang SAR, maka Negara yang bersangkutan dikenai status “Black Area” yang berpengaruh negatif terhadap aspek perekonomian, sosial politik, HANKAM, dan aspek-aspek lainnya, bahkan bisa dicabut dari keanggotaan ICAO & IMO.

FILOSOFI SAR
1.Locate.
Artinya memberikan gambaran yang kongkrit posisi/lokasi subyek yang mengalami musibah itu berada. Lokasi biasanya ditunjukkan dengan garis lintang dan bujur pada peta.
2.Acces.
Artinya sumber-sumber dari mana saja dan dengan cara apa bantuan pertolongan ini bisa sampai menuju lokasi tempat terjadinya musibah.
3.Stabilize.
Artinya penanganan/perawatan korban dengan berbagai macam kasus di lokasi kejadian itu dilakukan oleh unit-unit penolong (Rescue Unit) sebelum bantuan medis tiba untuk memberikan perawatan lebih lanjut.
4.Transport/Evakuasi.
Artinya proses pemindahan korban dari lokasi ke tempat yang lebih aman untuk diberikan pertolongan pertama (evakuasi) dan transportasi dari tempat mendapat pertolongan pertama ke tempat fasilitas medis terdekat.

SIFAT – SIFAT OPERASI SAR.
1.Kemanusiaan.
2.Netral.
3.Cepat, Cermat, Cekatan.
4.Tepat dan Aman.
5.Koordinatif.
6.Borderless.









KEMAMPUAN DASAR  SAR
Sesuai dengan arti kata SAR yang berarti Search (Pencarian) dan Rescue (Pertolongan/Penyelamatan),maka dalam kegiatan operasional SAR dibutuhkan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis SAR serta beberapa disiplin ilmu sebagai penunjang/pendukung. Ilmu pengetahuan dan keterampilan serta disiplin ilmu pendukung yang dimaksud adalah :
1.Pengetahuan Dasar SAR yang meliputi organisasi SAR, organisasi Operasi SAR, filosofi SAR, dan lain-lain.
2.Unsur Pencarian (Search).
a.Teknik Pencarian di Darat.
b.Teknik Pencarian di Laut.
c.Teknik Pencarian dari Udara.
3.Unsur Pertolongan/ Penyelamatan (Rescue) :
a.Evakuasi.
b.Medical First Response.
4.Unsur Pendukung/Penunjang :
a.Navigasi.
b.Mountaineering.
c.Survival.
d.Komunikasi Lapangan.
e.Persiapan Perbekalan, Pakaian dan Makanan.
f.Helly Rescue.

KOMPETENSI DASAR TENAGA SAR.
1.Fisik yang prima dan sikap mental yang tangguh.
2.Memiliki pengetahuan yang cukup.
3.Memiliki keterampilan yang dipersyaratkan.
4.Mampu menjalin koordinasi dengan baik.
PENYELENGGARAAN OPERASI SAR
Dalam penyelenggaraan operasi SAR, akan dihadapkan dengan system SAR yakni adanya 3 (tiga) Fase keadaan darurat (Emergency Phase), 5 (lima) Tahap Operasi SAR (SAR Stage) dan 5 (lima) Komponen yang menunjang operasi SAR (SAR Component}.

1.Phase keadan darurat.
•Tingkat meragukan (Uncertainty phase – INCERFA), bila pesawat atau kapal terlambat melapor tiba di tempat tujuan melebihi batas waktunya.
•Tingkat mengkhawatirkan (Alert phase – ALERFA), merupakan kelanjutan dari phase INCERFA atau diketahui pesawat atau kapal dalam keadaan mengkhawatirkan atau adanya ancaman terhadap keselamatannya.
•Tingkat memerlukan bantuan (Distress phase – DISTRESFA) diketahui penumpang pesawat atau kapal dalam keadaan bahaya dan memerlukan pertolongan.
2.Tahap Operasi SAR.
•Tahap menyadari (Awareness Stage), yaitu saat diketahui/disadari terjadinya keadaan darurat.
•Tahap tindak awal (Initial Action Stage), saat dilakukan tindakan awal sebagai respon adanya musibah.
•Tahap perencanaan operasi (Planning stage), saat dilakukan rencana operasi yang efektif untuk melaksanakan operasi SAR.
•Tahap operasi (Operation stage), saat dilakukannya operasi pencarian dan pertolongan.
•Tahap pengakhiran operasi (Mission conclusion stage), saat dinyatakan operasi SAR selesai dan seluruh unsur dikembalikan ke satuan masing-masing.

3.Komponen Penunjang SAR (SAR Component).

Pelaksanaan kegiatan SAR sesuai dengan pentahapan tersebut akan berhasil apabila didukung oleh adanya 5 komponen penunjang yang terdiri atas :
1.Organisasi.
Dalam lingkup operasi SAR dikenal organisasi operasi yang berlaku secara internasional. Organisasi ini merupakan organisasi tugas operasi yang terdiri dari :

•SAR Coordinator (SC).
SC adalah pejabat yang mempunyai tanggung jawab untuk menjamin dapat berlangsungnya suatu operasi SAR yang efisien dengan menggunakan seluruh potensi SAR yang ada. SC dapat dijabat oleh Kepala Basarnas, Gubernur Kepala Daerah Tingkat I, Bupati Kepala Daerah Tingkat II.
•SAR Mission Coordinator (SMC).
SMC adalah seseorang atau pejabat yang ditunjuk oleh SC untuk melaksanakan koordinasi dan pengendalian operasi SAR. Seorang SMC harus memiliki kualifikasi / kemampuan komando dan pengendalian serta memahami proses perencanaan operasi SAR, teknik Search and Rescue. SMC biasanya menggunakan Sumber Daya Manusia di daerah kejadian.
•On Scene Coordinator (OSC).
OSC yang ditunjuk bisa lebih dari 1 orang, tergantung dari jumlah dan jenis unsur yang dikerahkan, terutama pada operasi SAR gabungan yang melibatkan darat, laut dan udara serta apabila lokasi operasi teletak di wilayah perbatasan 2 (dua) Negara. OSC ditunjuk oleh SMC dan biasanya diambil dari komandan unsur yang paling senior diantara SRU.
•SAR Unit (SRU).
SRU adalah unit-unit SAR yang bertugas melaksanakan kegiatan operasi SAR dilapangan. SRU dapat berupa kapal laut dan crewnya, pesawat dengan crewnya atau tim darat. Pemilihan SRU harus berdasarkan pada pertimbangan kemampuan unsure dan kualifikasi awaknya. Keberadaan potensi SAR yang ada di masyarakat yang memiliki kualifikasi untuk menunjang operasi SAR biasanya ditempatkan pada SRU ini.
2.Fasilitas.
Fasilitas SAR dapat merupakan fasilitas milik pemerintah, swasta maupun perorangan. Pemilihan fasilitas berdasarkan atas kemampuan operasional dan latihan serta pengalaman awaknya. Hingga saat ini Basarnas instansi yang menangani SAR di Indonesia masih banyak menggunakan fasilitas yang dimiliki TNI AU, TNI AL untuk mendukung kegiatan operasi SAR.
3.Komunikasi.
Komunikasi merupakan tulang punggung dari seluruh sistim SAR. Fungsi komunikasi meliputi pengindraan / diteksi dini, koordinasi, komando dan pengandalian administrasi / logistic. Dalam pelaksanaan fungsi peringatan dini ini Basarnas, instansi yang menangani SAR di Indonesia menggunakan satelit Cospas / Sarsat, khusus untuk menangani pesawat terbang yang membawa ELT (Emergency Locater Terminal) dan kapal-kapal laut yang membawa EPIRB (Emergency Positioning Indicator Radio Beacon).  Lokasi stasiun Cospas / Sarsat disebut LUT (Lokal User Terminal) yang berada di Jakarta dan Ambon, menggunakan saluran teristrial dan radio yang berhubungan dengan ATC  dan SROP. Untuk fungsi koordinasi terutama informasi data Basarnas  menggunakan SAROIMS (SAR Operation Information Managemet System) dengan memanfaatkan teknologi V-Sat, yang dipasang di kantor-kantor SAR dan dihubungkan dengan kantor pusat. Fungsi kodal sebagian besar menggunakan peralatan komunikasi yang ada di unsur-unsur TNI. Untuk fungsi Administrasi Logistik digunakan saluran radio dan telepon dengan memanfaatkan faxsimili.

4.Perawatan Darurat (Emergency Care).
Perawatan darurat terlaksana dengan persyaratan kemampuan sebagai berikut :
•Personil SAR terlatih dalam penanganan darurat (Medical First Responder).
•Tersedia transportasi korban.
•Tersedia fasilitas medis untuk perawatan korban.
5.Dokumentasi.
Dokumentasi meliputi pencatatan informasi dan data dalam format tertentu sehingga memudahkan pelaksanaan evaluasi dan pelaporan. Data-data yang tersusun dengan baik akan memudahkan pengambilan keputusan.

PELAKSANAAN OPERASI SAR
1.Operasi SAR diaktifkan segera setelah diketahui dengan pasti adanya
musibah atau terjadi keadaan darurat.
2.Operasi SAR dihentikan bila korban musibah telah berhasil diselamatkan atau bila telah dijakinkan keadaan darurat tidak terjadi lagi (Fase Alert) atau sudah dapat diatasi, atau bila hasil analisa / evaluasi berdasarkan Time Frame For Survival (TFFS) survivor/korban bahwa harapan untuk selamat setelah hari ke 7 (ketujuh) operasi SAR dilaksanakan sudah tidak ada lagi.
3.Opersai SAR merupakan gabungan kegiatan dari Operasi Search dan
Operasi Rescue yang pada pelaksanaannya dapat berupa :
a.Operasi Pencarian tanpa Operasi Pertolongan.
b.Operasi Pertolongan/Penyelamatan tanpa operasi pencarian.
c.Operasi Pencarian yang dilanjutkan Operasi Pertolongan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SEARCH AND RESCUE



Search and rescue (SAR) adalah kegiatan dan usaha mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapibahaya dalam musibah-musibah seperti pelayaran, penerbangan dan bencana. Istilah SAR telah digunakan secara internasional tak heran jika sudah sangat mendunia sehinggamenjadi tidak asing bagi orang di belahan dunia manapun tidak terkecuali di Indonesia.
Operasi SAR dilaksanakan tidak hanya pada daerah dengan medan berat seperti di laut, hutan, gurun pasir, tapi juga dilaksanakan di daerah perkotaan. Operasi SAR seharusnya dilakuan oleh personal yang memiliki ketrampilan dan teknik untuk tidak membahayakan tim penolongnya sendiri maupun korbannya. Operasi SAR dilaksanakan terhadap musibah penerbangan seperti pesawat jatuh, mendarat darurat dan lain-lain,sementara pada musibah pelayaran bila terjadi kapal tenggelam, terbakar, tabrakan,kandas dan lain-lain. Demikian juga terhadal adanya musibah lainnya seperti kebakaran,gedung runtuh, kecelakaan kereta api dan lain-lain.
Unsur-unsur SAR
Dalam kegiatan SAR ada 4 unsur yang bisa dijadikan penentu keterampilan yang dibutuhkan sebagai penunjang suksesnya suatu tim sar dalam melakukan operasinya,
yaitu :
1. Lokasi : kemampuan untuk menentukan lokasi korban. Hal ini memerlukan pengetahuan menangani data peristiwa, keadaan korban, keadaan medan dan lainnya.
2. Mencapai : kemampuan untuk mencapai korban. Hal ii memerlukan keterampilan mendaki gunung, rock climbing, cara hidup di alam bebas, peta, kompas, membaca jejak, dan lainnya
3. Stabilisasi : kemampuan untuk menentramkan korban dalam hal ini mutlak diperlukan pengetahuan P3K, gawat darurat dan lainnya.
4. Evakuasi : kemampuan membawa korban. Hal ini memerlukan keterampilan seperti halnya “Mencapai”.


Tahapan SAR
Ada beberapa tahapan SAR, Yaitu :
1. tahapan keragu-raguan, sadar bahwa keadaan darurat telah terjadi.
2. tahapan kesiapan, melaksanakan segla sesuatunya sebagai tanggapan terhadap
suatu kecelakaan, termasuk juga menadpatkan segala informasi mengenai korban.
3. tahapan perencanaan, pembuatan rencana yang efektif dan segala koordinasi yang
diperlukan
4. tahapan operasi, seluruh unit bertugas hingga misi SAR dinyatakan selesai
5. tahapan laporan, terakhir membuat laporan mengenai misi SAR yang telah
dilaksanakan.
Pencarain pada perasi SAR
Berikut adalah beberapa pola teknis pencarian pada operasi SAR. Hanya sebagain teknik
yang dibahas di sini, yaitu :
1. Track (T)
• Pola ini dipakai jika orang yang dinyatakan hilang dari jalur perjalanan yang
direncanakan akan dilewatinya merupakan satu-satunya informasi yang ada.
• Selalu dianggap bahwa sasaran (korban) masih disekitar atau dekat dengan
garis rute
Pola Track
2. Paralel (P)
• Daerah pencarian cukup luas dan medannya cukup datar
• Hanya mempunyai posisi duga
• Sangat baik untuk daerah pencarian yang berbetuk segi empat.
Pola Paralel
3. Creeping (C)
• Daerah pencarian sempit, panjang dan kondisinya cukup rata serta datar.
• Kalau di pegunungan gunung, regu pencari dengan ola ini kan turun kejurangjurang
atau dataran yang lebih rendah.
Pola Creeping
4. Square (SQ)
• Biasanya digunakan pada daerah yang datar
• Dengan pola ini perhitungan posisi juga harus merupakan kemungkinan yang
tepat
• Pembelokan tidak sembarangan, tetapi dengan perhitungan
C
D
A B
Pola Square
5. Sector (S)
• Lokasi atau posisi diketahui
• Daerah yang disari tidak luas
• Daerah pencarian berbentuk lingkaran
• Rute regu pencarian berbentuk segitiga sama sisi
Pola Sector
6. Contour (CT)
• Digunakan di bukit-bukit.
• Pencarian selalu dimulai dari puncak tertinggi
7. Barrier (B)
• Digunakan dengan hanya menunggu atau mencegat dengan perhitungan yang
pasti bahwa survivor akan lewat dengan melihat keadaaan lingkungan.
• Digunakan jika regu pencari dan penyelamat tidak bisa mendekati tempat
yang terkena musibah
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pola pencarian
Dari sekian banyak pola pencarian, anda harus memilih yang paling tepat. Pemilihan
tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ;
• Ketepatan posisi survivor
• Luas dan bentuk daerah pencarian
• Jumlah dan jenis unit rescue yang tersedia
• Cuaca di dan ke daerah pencarian
• Jarak basecamp unit rescue ke lokasi musibah
• Kemampuan peralatan bantu navigasi di daerah kejadian
• Ukuran sukar dan mudahnya sasaran yang diketahui
• Keefektifan taktik yang dipilih
• Medan di daerah kejadian
• Dukungan logistik ke daerah pencarian
Taktik pencarian
Taktik pencarian dapat bervariasi, tergantung pada situasi tertentu. Secara umum hal itutercakup dalam lima metode pencarian, yaitu :
1. Taktik pendahuluan
Merupakan usaha-usaha untuk mendapatkan informasi awal, mengoordinir reguregupencari, membentuk pos pengendali, perencanaan, pencarian awal, dsb

2. Taktik Pembatasan
Menciptakan, membentuk garis lintas (perimeter) untuk mengurung korban dalam area pencarian
3. Taktik Pendeteksian
Pemeriksaan terhadap tempat potensial dan juga menggunakan pencarian potensial. Pada area tersebut diperhitungkan, ditemukannya korban ataupun jejak atau segala sesuatu yang tercecer yang ditinggalkan korban
4. Taktik pelacakan
Melacak jejak atau sesuatu yang ditinggalkan korban, biasanya pelacakan ini dilakukan dengan anjing pelacak atau orang yang terlatih mencari dan membaca jejak
5. Taktik evakuasi
Memberikan perawatan dan membawa korban untuk perawatan yang lebih lanjut jika diperlukan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

5 Dosa Para Pendaki Gunung yang harus dihindari



ADA sebuah anggapan bahwa mendaki gunung itu adalah sebuah tindakan yang keren dan gagah. Ada rasa bangga ketika sudah menginjakan kaki di puncaknya. Namun, sadarkah kita bahwa kita yang mengaku pecinta, ataupun penikmat alam, bisa jadi adalah seorang perusak alam?

1. Melakukan kegiatan pendakian massal (non-konservatif)

Mungkin kita sudah tahu tentang sebuah brand perlengkapan outdoor yang melakukan pendakian massal ke gunung Semeru beberapa waktu lalu. Saya sempat diajak teman karena dalam iklannya pendakian ini dibumbui oleh kata-kata bersih-bersih gunung, tanam pohon, dan konservasi.
Kenyataannya? Semeru menjadi tempat sampah dan potensi rusaknya ekosistem makin besar.
Sebelum mengikuti pendakian massal, ada baiknya survey terlebih dahulu. Berapa kapasitas gunung tersebut, berapa jumlah pendaki yang dibolehkan ikut oleh panitia, dan hal yang terkait dengan konservasi lainnya. Hindari penmas yang hanya mencari laba semata.
Jadilah pendaki yang bertanggung jawab.

2. Andil besar mencemari lingkungan

Biarkan mereka tetap pada tempatnya
Biarkan mereka tetap pada tempatnya
Saya pernah naik gunung dengan seorang rekan yang kelihatannya sudah ‘senior’ dalam hal mendaki. Namun, ditengah perjalanan istirahat, saat ia memakan sebuah makanan ringan, dengan ringannya pula ia membuang sampah itu sembarangan. Itulah potret kebanyakan pendaki yang tidak paham akan konservasi.
Apa sulitnya sih membawa sampah di dalam tas?
Di lain waktu, saat saya sedang ingin mengambil air di sebuah mata air, terlihat seorang pendaki yang sedang menikmati ritual B*B di mata air itu!
Apa dia tidak berfikir orang akan minum dari sana? Sebegitu sulitkah menggali lubang di tanah? Kucing saja masih bisa lebih pintar!
Dan banyak juga pendaki-pendaki yang masih saja menggunakan bahan-bahan kimia yang bisa merusak. Jangan heran kalau menemukan bungkus sabun/shampo yang tergeletak dekat di mata air.

3. Bersikap acuh tak acuh dan pasif.

Menganggap tugas konservasi itu adalah tugasnya penjaga Taman Nasional, porter, dan LSM lingkungan. Padahal pendaki sendirilah yang punya bagian besar dalam menjaga lingkungan.
Juga tidak mengindahkan kearifan lokal yang telah ditetapkan masyarakat setempat. Tertulis ataupun tidak tertulis. Seringkali mitos-mitos mistis di gunung itu sebetulnya adalah usaha untuk konservasi dari masyarakat.
Jangan sampai bilang begini, ” Saya bukan pecinta alam, kok. Cuma penikmat alam. Jadi bukan tugas saya dong untuk konservasi?”
Heran dengan orang yang bangga dengan menuliskan jejaknya di bebatuan ini.
Heran dengan orang yang bangga dengan menuliskan jejaknya di bebatuan ini.

4. Merusak keasrian gunung

Tidak sulit menemui corat-coret vandalisme di bebatuan, batang pohon, bahkan pos pendakian. Mengambil flora & fauna langka seperti bunga edelweiss, bertindak sembrono sehingga mengakibatkan kebakaran hutan. Puntung rokok dan bekas api unggun yang masih menyala, membuka jalur yang tidak seharusnya, membuang tissue basah kotor seenaknya dan masih banyak lagi.

5. Tidak membagikan pengetahuan tentang pendakian konservatif

Tak dipungkiri, mendaki gunung sekarang sudah terkesan menjadi sebuah ‘wisata’. Apalagi banyak pengaruh dari acara televisi, film, blog, forum dan banyak media lainnya.
Membagikan semangat mendaki gunung kepada orang-orang baru tanpa dibarengi semangat konservasi hanya akan menjadikan para pendaki tersebut menjadi generasi pendaki yang cenderung antipati terhadap lingkungan dan hanya mementingkan kesenangan semata.
Sebagian dari kita mungkin pernah melakukan hal atas, secara sengaja maupun tidak sengaja. Yang pernah, tolong jangan diulangi lagi dan mari saling mengingatkan kepada rekan pendaki yang lain.
Semoga gunung-gunung Indonesia masih bisa dinikmati anak-cucu kita nantinya. Amin.
Salam lestari!
Ingatlah bahwa masih ada anak cucu kita.
Ingatlah bahwa masih ada anak cucu kita.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

7 Puncak Tertinggi di Indonesia (The Seven Summits of Indonesia)

7 puncak tertinggi di Indonesia atau The Seven Summits of Indonesia adalah tujuh puncak gunung paling tinggi di Indonesia. Konsepnya mirip dengan Seven Summits yang merupakan tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua di dunia.
Bedanya, ke-7 gunung ini ada di Indonesia dan merupakan puncak-puncak paling tinggi di 7 pulau dan kepulauan utama Indonesia. Tujuh pulau atau kepulauan utama tersebut adalah Papua, Kalimantan, Jawa, Sumatera, Sulawesi, kepulauan Maluku, dan kepulauan Nusa Tenggara (Bali dan Nusa Tenggara).
Artikel tentang 7 puncak tertinggi di Indonesia ini Alamendah copy dari situs highcamp.info dengan beberapa penyesuaian. Langsung saja inilah The Seven Summits of Indonesia atau Tujuh Puncak Tertinggi di Indonesia.
 Cartenzs Pyramid
  • Cartenzs Pyramid Pegunungan Sudirman; Puncak tertinggi di Pulau Papua
Puncak gunung  tertinggi di pulau Papua adalah Cartenzs Pyramid dengan ketinggian 4.884 m dpl. Puncak Carstenzs yang biasa disebut juga Puncak Jaya merupakan bagian dari Pegunungan Maoke (Barisan Sudirman) yang terdapat di provinsi Papua. Letaknya berada di kordinat 04º 03′ 48″ LS 137º 11′ 09″ BT, Puncak Jaya merupakan puncak tertinggi di Indonesia dan juga masuk kedalam salah satu Seven Summit di tujuh benua dunia versi Reinhold Messne. Rute pendakian termudah bisa melalui Ilaga (jalur utara) atau Singa dan Tembagapura (jalur selatan).
 Gunung Binaiya
  • Gunung Binaiya; Puncak tertinggi di Kepulauan Maluku
Puncak gunung tertinggi di kepulauan Maluku adalah puncak Gunung Binaiya (Binaia) dengan ketinggian 3.027 m dpl. Dan. Gunung tidak berapi ini terletak di pulau Seram dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah, Maluku. Tepatnya pada koordinat 3° 10′ LS dan 129° 28′ BT. Rute pendakian kepuncaknya bisa dimulai dari desa Kanike. 
Puncak Rantemario
  • Puncak Rantemario Gunung Latimojong; Puncak tertinggi di Pulau Sulawesi
Puncak gunung tertinggi dipulau sulawesi dipegang oleh gunung Latimojong dengan puncak tertingginya bernama Rante Mario memiliki ketinggian 3.478 m dpl. Pegunungan Latimojong yang merupakan gunung tidak berapi ini berada di kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, pada koordinat 3° 22′ 54″ LS 120° 1′ 43″ BT. Rute pendakiannya bisa dimulai dari desa Karangan. Sumber lain menyatakan puncak tertinggi adalah Rantekombola yang berada berdekatan dengan Rantemario. Gunung Bukit Raya
  • Gunung Bukit Raya; Puncak tertinggi di Pulau Kalimantan
Puncak gunung tertinggi diKalimantan sebenarnya adalah gunung Kinabalu namun gunung tersebut berada di wilayah Malaysia. Sedang puncak tertinggi dalam “The Seven Summits of Indonesia” dari kalimantan adalah Gunung Bukit Raya dengan ketinggian 2.278 m dpl. Gunung tidak berapi yang merupakan bagian dari Muller Schwaner ini terletak di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah pada koordinat 112º 07′ BT dan 00º 24′ LS. Rute pendakian bisa dimulai dari Nanga Popai, Kalimantan Barat.
 Gunung Rinjani
  • Gunung Rinjani; Puncak tertinggi di Kepulauan Nusa Tenggara dan Bali
Puncak tertinggi diBali dan Nusa Tenggara adalah Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 m dari permukaan laut. Gunung berapi ini berada di pulau Lombok propinsi Nusa Tenggara Barat pada koordinat 8° 25′ LS 116° 28′ BT. Rute pendakian bisa dimulai dari desa Sembalunlawang. Puncak Mahamer Gunung Rinjani
  • Puncak Mahameru Gunung Semeru; Puncak tertinggi di Pulau Jawa
Puncak tertinggi di pulau Jawa adalah Puncak Mahameru yang merupakan puncak dari Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 m dpl. Gunung ini berada di propinsi Jawa Timur di antara wilayah Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8° 6′ 28″ LS, 112° 55′ 12″ BT. Rute pendakian gunung dapat dimulai dari Desa Ranupane.
 Gunung Kerinci
  • Puncak Indrapura Gunung Kerinci; Puncak tertinggi di Pulau Sumatera
Puncak Gunung tertinggi di pulau Sumatera adalah Puncak Indrapura di Gunung Kerinci dengan ketinggian 3.800 m dpl. Gunung berapi ini Berada di perbatasan propinsi Sumatera Barat dan Jambi pada lintang 10°45,50′ LS dan 1010°160′ BT. Gunung ini bisa didaki dari rute di desa Kersik Tuo.
Nah, siapa kira-kira di antara sobat SALAMAdventure yang sudah atau sedang berencana menaklukan tujuh puncak tertinggi di Indonesia tersebut?.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

5 Kejanggalan dalam Pendakian Film 5cm

Perjalanan ke kalimati akan memakan waktu sekitar 4 jam



Ini bukan kritikan. Saya suka film ini, juga penggemar 5cm dari saat pertama kali novel terbit. Hanya sedikit ingin sharing tentang pendakian di Mahameru. Yang menurut saya di film ini sedikit janggal. Ya, ini memang cuma film, saya tahu itu :)


SIAPA yang berani menyangkal keindahan alam Mahameru?
Film 5 cm secara tidak langsung pasti akan membuat darah beberapa orang bergejolak untuk mencicipi daratan tinggi di pulau jawa tersebut.
Namun, tidak semua orang paham bahwa mendaki gunung ‘sungguhan’ seperti semeru itu relatif sulit dan tidaklah semudah ‘wisata alam’ seperti gunung bromo di sebelahnya.
Bahkan, menyebutnya sebagai sebuah tempat ‘wisata’ pun kita perlu berpikir panjang. Tidak, tidak. Saya tidak akan mengkritisi film ini, bahkan saya menyukainya karena 5cm adalah salah satu novel favorit saya. Here’s the point you should consider before reaching Semeru.

1. Menggunakan celana jeans

Jeans, jika terkena air, akan menjadi sangat berat. Keringnya pun memakan waktu lama. Belum lagi saat di packing akan tidak efisien karena terlalu besar.
Mendaki gunung-gunung Indonesia yang notabene adalah hutan hujan tropis, tentu akan selalu bertemu dengan cuaca lembab dan hujan. Pakaian yang basah dan tidak lekas kering bisa mempersulit pergerakan, menyebabkan kedinginan hingga hipotermia, dan akan menambah berat beban yang sudah pasti berat.
Menuju mahameru
Sebaiknya, gunakan celana yang terbuat dari bahan seperti polyster. Selain ringan, bahan tersebut juga cepat kering jika basah. Lebih baik lagi gunakan bahan yang bisa tahan air tetapi tetap breathable, walaupun mungkin dengan harga yang cukup mahal.
Menurut saya, film 5cm ingin tetap terlihat ‘fashionable’ sehingga penggunaan jeans lebih diminati. Ah, tetapi film-film adventure super keren seperti vertical limit atau 127 hours tetap menggunakan peralatan lengkap dan standar kok. Eh tapi katanya ini film tentang persahabatan ya? Sinetron kah?

2. Tidak membawa air yang cukup

Ini adegan yang cukup aneh. Gila lebih tepatnya. Saat tiba di kalimati, mereka malah meminta air kepada pendaki lain. Satu setengah liter air untuk berenam, dan mereka langsung naik ke Arcopodo!
Padahal, sumber mata air terakhir ya di kalimati itu. Saya sendiri waktu naik ke puncak membawa dua liter air untuk masing-masing orang.
Oh, porter-nya lupa di shoot mungkin hehe.

3. Backpack/carrier yang terlihat sangat ringan

Saya nyengir-nyengir saat adegan di stasiun senen ini. mereka masing-masing muncul dengan backpack-nya yang terlihat kempes. Tas nya genta masih terlihat gulungan matras-nya yang melompong.
Dan, yang membuat saya tertawa adalah adegan Ian berlari mengejar kereta dengan membawa carrier besar dan satu kerdus indomie! Hebat banget tenaganya bro!

4. Terlalu memaksakan diri untuk pendaki pemula

Dalem tenda ada Dinda lagi manggil-manggil
Genta adalah seorang leader pendakian yang sangat ceroboh dan mengambil resiko terlalu besar.
Dengan membawa teman-temannya yang baru pertama kali naik gunung, ia langsung mengambil jalan menjuju kalimati, tanpa istirahat terlebih dahulu di Ranu Kumbolo.
Memang, dari ranupane (basecamp awal) ke ranu kumbolo hanya 4 jam, pun demikian dari ranukumbolo ke kalimati. Tapi, malam harinya mereka kan menempuh perjalnan ke puncak. Sekuat apapun, melakukan perjalanan dengan jalan kaki lebih dari enam jam menanjak dalam satu hari adalah penyiksaan, setidaknya menurut saya.

5. Informasi yang kurang tepat

“Kalo hujan abu begini apa kita boleh ke puncak, pak?” tanya riani ke salah satu pendaki di kalimati.
“Oh, boleh-boleh saja. Ini normal. Tapi jam 9 harus kembali ya,” ujar pendaki tersebut.
Kabarnya, setelah siang datang, awan beracun wedhus gembel akan mengarah ke area puncak mahameru mengikuti arah angin. Ini tidak sepenuhnya salah. Tapi, setelah perbincangan saya dengan pak sinambela petugas taman nasional, angin bisa berubah kapan saja tanpa mengenal waktu. Saya sendiri mengalaminya di tengah perjalanan ketika naik ke puncak saat jam tiga pagi. Bau belerang tercium keras dan awan dari kawah terlihat hampir di atas kami. Setelah menunggu satu jam, arah angin baru berubah kembali.
Satu hal lagi, puncak Mahameru sebetulnya ditutup untuk pendakian. Tertulis jelas di peraturan TN semeru pendakian hanya dibolehkan sampai kalimati. Lebih dari itu, pihak taman nasional tidak bertanggung jawab. Kita bahkan diminta untuk menandatangani surat perjanjian di atas materai bahwa akan selalu menaati peraturan tersebut. Pada musim ramai, memang ada ranger yang menjaga pendaki agar tidak ke puncak. Selain itu, cuma kesadaran dan disiplin kita yang menentukan.

6. [Tambahan dari komentar] Berenang di Ranu Kumbolo

Jelas-jelas tertulis di peraturan pendakian, dan juga papan larangan disana. DILARANG BERENANG DI RANU KUMBOLO.
Pernah ada kejadian orang yang tenggelam di Ranu kumbolo ini. Pokoknya, keselematan itu yang utama. Tidak usah merasa sok-sok jagoan kalau digunung, atau dimanapun.
**
Tanjakan cinta
Banyak pro dan kontra yang timbul setelah munculnya film 5cm ini. Tidak mungkin juga membendung keinginan orang-orang yang akan naik ke semeru. Juga tidak mungkin melarang mereka naik, gunung ini milik kita bersama kok.
Menurut saya,  pemeriksaan standar keamanan pendakian di taman nasional harus diperketat untuk mencegah para “pendaki 5cm” ini mendaki jika standard peralatan mereka belum memadai. Walaupun ini sulit sekali dalam prakteknya.
Nah, tugas kita lah sebagai orang yang lebih paham. Para pendaki, mapala, klub-klub pendaki, atau siapapun untuk memberi arahan tentang pendakian yang baik dan benar. Entah itu menulis blog, membuat pelatihan, atau sekedar sharing di warung kopi. Apapun itu, yang penting bagikanlah ilmu-ilmu mendaki yang benar sehingga semeru atau gunung-gunung lainnya akan lebih terjaga.
Selalu ingat-ingat dan praktekan tiga spirit pecinta alam ini :
  1. Jangan pernah meninggalkan sesuatu kecuali JEJAK
  2. Jangan pernah meninggalkan sesuatu kecuali GAMBAR
  3. Jangan pernah membunh sesuatu kecuali WAKTU
Tabik!
foto #penting
**Anyway, film ini cukup membuat saya sedikit bernostalgia dengan teman-teman saat mendaki ke semeru. Kami nonton bersama dan banyak menertawakan hal-hal ajaib yang terjadi dalam film ini. This film is good, but not that great. Dan yang jelas jauh lebih baik daripada film-film Indonesia lainnya yang cuma menjual paha dan dada kayak kfc :p

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung BAWAKARAENG

Rute pendakian
Gunung yg bisa di bilang Gunung Gedenya orang Jakarta, jaraknya hanya 75 km dari Kota Makassar dan menjadi gunung favorites bagi pendaki di Kota Makassar dan sekitarnya.
Gunung ini bisa dicapai dari kabupaten Gowa, yg berbatasan dengan Kota Makassar, bisa juga ditempuh melalui Kabupaten Sinjai, hanya saja jalur lewat Kabupaten Sinjai jarang digunakan.
Rute yg paling sering digunakan adalah melalui Kabupaten Gowa.
Kalau pendaki berasal dari Sulawesi – selatan atau dari Luar pulau sulawesi, naik angkutan Kota menuju ke Terminal Gowa, atau bisa juga Turun di perempatan Sunggu Minasa, Jalan arah ke Malino.

Dari sini, Naik Angkutan Pedesaan jurusan Malino, waktu tempuh kurang lebih 2-3 jam perjalanan.
Biasanya Sopir angkutan sudah hafal, kalau ada pendaki yg akan mendaki Bawakaraeng, Sopir Angkutan akan mengantar sampai ke Desa lembanna. Desa terakhir di kaki gunung Bawakaraeng. Tarif per Orang Rp. 10.000.
Biasanya banyak pendaki bermalam terlebih dahulu di Desa lembanna, yg punya ketinggian 1400 Mdpl, baru keesokan paginya pendakian dimulai. Atau bisa juga melakukan pendakian pada Malam hari.

Tahapan rute Pendakian.
• Pendakian dimulai dari Desa Lembanna, medannya berupa perkebunan penduduk lalu mulai masuk pintu Hutan Pinus dan untuk mencapai Pos 1 dibutuhkan waktu 1-2 jam perjalanan.
• Dari Pos 1 yg ketinggian mencapai 1650 mdpl, pendakian terus landai hingga mencapai Pos 2, diperlukan waktu tak lebih dari 1 jam perjalanan, disini tersedia mata air yg mengalir.
• Perjalanan belum terlalu mendaki, masih landai dan mulai masuk vegetasi hutan khas sulawesi, waktu tempuh tak berbeda dengan dari Pos 1 ke Pos 2, di pos 3 juga tersedia mata air dan bisa mendirikan Tenda.
• Pos 4 di tempuh dalam waktu lebih dari 1 Jam perjalanan dan perjalanan di lanjut hingga Pos 5, di pos 5 terdapat mata air, hanya saja lumayan jauh. Biasanya I Pos 5 digunakan untuk bermalam.
• Dari Pos 5, perjalanan mulai mendaki dan sepanjang perjalanan akan melewati Pohon-pohon yg tumbang karena dari Pos 5 – 6, hutannya habis terbakar, kalau mendaki malam hari sebaiknya berhati-hati, karena disini biasanya pendaki sering tersasar, karena jalur tak begitu terlihat.
• Ketika tiba di Pos 6, perjalanan masih melalu hutan yg lumayan lebat, perjalanan terus melandai dan mulai mendaki dan hutan mulai menghilang berganti vegetasi hutan yg berbeda dan setelah 2 jam perjalanan, akan tiba di Pos 7, yg punya ketinggian 2710 mdpl. Di Pos 7 pemandangan sangat indah dan lumayan terbuka. Dipos 7 inilah yg sering terjadi badai.
• Dari Pos 7 menuju Pos 8, jalur mulai naik turun, di sepanjang jalur ini terdapat 2 kuburan dan ada pula In-memoriam pendaki yg tewas, setelah melewati 2 bukit yg punya ketinggian rata-rata 2700 mdpl, jalur akan menurun dan Tiba di Pos 8, disini tersedia mata air, dan biasanya pendaki bermalam disini baru keesokan paginya menuju puncak Bawakaraeng. Pemandangan rumput savana dan puncak bawakaraeng terlihat dari pos 8 ini, suhu pada malam hari antara 8-10 derajat.
• Setelah melewati padang savana dan ada kebun edelweis maka akan Pos 9 di tempuh kurang lebih 1 jam perjalanan, di pos 9 juga bisa digunakan untuk mendirikan tenda.
• Pos 10 adalah Puncak Bawakaraeng. Untuk mencapai puncak bawakaraeng, tidak lah terlalu sulit, walaupun sedikit mendaki. Setelah menempuh kurang lebih ½ jam perjalanan, maka akan tiba di Puncak Bawakaraeng. Sebaiknya sebelum menuju puncak perhatian kondisi alam di puncak, terkadang angin bertiup lumayan kencang.

Rute alternative bisa juga menggunakan jalur lintas, yaitu melewati lembah Rama, dari Pos 1 ada percabangan jalan, ambil jalur kanan dan tembuh di Pos 8, jalur ini lumayan panjang dan melewati lembah yg lumayan luar, bisa melihat Air Terjun Taka Palu yg punya ketinggian 50 meter.
Rute Kab. Sinjai barat, nama Desa Terakhir adalah Desa Kasoso dan katanya melewati Lembah Cina, hanya saja jalurnya jarang dilalui.

Rute Alternative lintas LompoBatang, Pendakian bisa juga lintas ke Gunung LompoBatang melalui puncak bawakaraeng dan Turun di Kabupaten Gowa, menurut informasi dibutukan waktu 3 hari perjalanan.

Puncak Bawakaraeng.
Ketika tiba dipuncak Bawakaraeng, pemandangan di puncak ini termasuk yg paling bagus di sulawesi, tak heran setiap minggu gunung ini ramai di daki oleh para pendaki yg umumnya datang dari Sulawesi selatan, juga dari propinsi lainnya.
Terdapat Sumur yg dikeramatkan oleh masyarakat, biasanya mereka mengambil air dari sumur tersebut untuk di bawapulang, juga terdapat batu yg biasa digunakan untuk sesajen.
Luas puncaknya kurang lebih 100 m2, pemandangan Laut dan Kota Makassar di arah barat, di arah Timur Awan terlihat tebal dan terdiam menggumpal, di arah selatan terlihat Gunung Bulusaraeng dan arah selatan, adalah Gunung LompoBatang 2871 mdpl, bisa dilintasi lewat Gunung Bawakaraeng.
Waktu tempuh untuk pendakian Gunung Bawakaraeng, kalau dirata-rata dari Desa Terakhir kira-kira 6 – 8 jam perjalanan.

Objek Menarik
• Air Terjun Malino
• Air Terjun Lembanna
• Air Terjun Takapalu
• Air Terjun Ketemu Jodoh
• Taman Wisata Hutan Malino

Perijinan
Tidak ada Biaya perijinan untuk mendaki gunung ini, biasanya Pendaki hanya mengisi Buku Tamu dan lapor kepada Kepala Dusun di Lembanna.

Keberadaan Porter
Didesa lembanna, kebanyakan penduduk bersedia untuk mengantar dan sekaligus menjadi Porter, hanya saja tak ada tarif yg jelas. Tergantung kesepakatan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gunung LOMPOBATTANG

Gunung Lompobattang 2870 Mdpl
Identitas Gunung
Nama Gunung : LOMPOBATTANG
Tinggi : 2871 Mdpl
Type Gunung : Tidak Berapi

Kondisi/ Vegetasi
1000-1500 Mdpl : Hutan Pinus, Perkebunan Rakyat
1500-2000 Mdpl : Hutan Produksi
2000-2500 Mdpl : Hutan Primer
2500-2871 Mdpl : Bebatuan

Kondisi Fauna
Sudah amat jarang ditemui kecuali babi hutan dan burung-burung.

Administrasi
Kecamatan : Tompo Bulu
Kabupaten : Goa
Propinsi : Sulawesi Selatan
Perijinan : Kepala Dusun Lembang Bune
Gunung Lompobattang terletak pada koordinat geografisnya adalah 119°56′13″ BT – 05°21′25″ LS, yang berada pada arah selatan dari Makassar. Lompobattang berarti ” Perut Buncit “. Berdiri tegak dengan ketinggian 2.870m d.p.l suhu minimumnya adalah sekitar 15°C dan maksimumnya sekitar 27°C. Luas gunung ini adalah 82.77 km2. Orang yang pertama mendaki guung ini adalah seorang pendaki berasal dari Inggris bernama James Brooke pada tahun 1840 James Brooke akhirnya menjadi Raja Serawak (Sumber Ekologi Sulawesi). Hutan gunung Lompobattang termasuk dalam vegetasi hutan pegunungan bawah dan hutan pegunungan Atas. Tumbuhan yang banyak ditemui adalah jenis Podocarpos (konifer Asli), Arega sp. Pohon Mapel (Acercaesicum), Rotan, Paku Tiang, Paku Besar, Lantana camara verb, Tahi angin (Usnea/Lumut kerak/Lychenes), Azalea (Rhododendron), Arbei (Morus alba), Gaultheria celebica, Gaultheria viridifloria, Buni (diplycosi / berbau seperti gandapura), Lumut Aerobryum, Edelweis (andaphaus javanicum), dan sebagainya. Sedangkan faunanya adalah Anoa (Bulbalus depressicrnius), babi hutan, babi rusa, burung coklat paruh panjang, elang sulawesi dan semut Crematosaster.

Air dapat diperoleh antara lain di :
Dusun Lembang Bu’ne (desa terakhir)
Pos II di ketinggian 1.378m d.p.l
Pos III di ketinggian 1.532m d.p.l
Pos IX di ketinggian 2.750m d.p.l
Desa Lembang Lowe (1.750m d.p.l)
Desa Lengkese (1.113m d.p.l)

Rute Pendakian
Secara Geografis, Gunung Lompobattang terletak di Kabupaten Gowa Kecamatan Tompobulu, akan tetapi pencapaian menuju puncak gunung ini dapat dilakukan dari dua jalur yaitu, jalur Lembang Bu’ne yang dapat dicapai melalui Malakaji via Kabupaten Jeneponto. Dan jalur satunya adalah jalur Lengkese/Malino yang terletak di kabupaten Gowa.

JALUR LEMBANG BU’NE
Dusun Lembang Bu’ne terletak disebelah Barat Daya puncak Gunung Lompobattang. Daerah ini berada tepat dibawah kaki gunung ini, yang berada pada ketinggian 1.320m d.p.l, posisi koordinat 119°53′42″ BT dan 05°24′20″ LS, mata pencarian penduduknya adalah bertani. Curah hujan rata-rata adalah 78.7 mm dengan suhu udara minimum 15°C dan maksimum 21°C. Kemiringan jalan setapak dari Lembang Bu’ne menuju puncak Lompobattang bervariasi antara 0° – 84 °. Urutan pencapaiannya dari Makassar sebagai berikut:
Makassar -> Malakaji -> Lembang Bu’ne -> Puncak Gunung Lompobattang

JALUR LENGKESE
Lengkese terletak disebelah Barat puncak Gunung Lompobattang. Daerah yang berada tepat dibawah kaki Gunung ini berada diketinggian 1.995m d.p.l dengan posisi koordinat 119°53′20″ BT dan 05°18′10″ LS. Mata pencaharian penduduknya adalah bertani dan curah hujannya rata-rata 78.7mm / tahun dengan suhu udara minimum 15°C dan maksimum 21°C. Kemiringan jalan setapak dari Lengkese menuju puncak Lompobattang bervariasi antara 0° – 90°. Urutan pencapaian dari Makassar sebagai berikut:

Makassar -> Sungguminasa -> Malino -> Lengkese -> Puncak Gunung Lompobattang
Lokasi yang paling baik untuk mendirikan tenda adalah:
Pos II (1.378m d.p.l)
Pos IX (2.750m d.p.l)
Pos Lembang Lowe (1.750m d.p.l)
Lengkese (1.113m d.p.l)

Perijinan
Tidak ada perijinan yang berbelit-belit untuk mendaki gunung ini, hanya perlu melapor ke kepala desa setempat dan untuk lebih baiknya menyertakan surat jalan yang dilampiri data lengkap para pendakinya.

Tempat Menarik
Ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi disekitar gunung ini antar lain:
Air terjun di wilayah Lembang Bu’ne yang berada di ketinggian 1.314m d.p.l. Air terjun ini mempunyai tinggi 50 meter dan dapat dijakau dengan jalan kaki. Di wilyah Lengkese juga bisa ditemui air terjun bertingkat tiga dengan tinggi 100 meter, dan terletak pada ketinggian 1.113m d.p.l dan dapat dicapai dengan jalan kaki.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TIPS WATERPROFF

Untuk Tenda, Poncho, Ransel, & Sleeping Bag

Sering kali kita dikecewakan oleh peralatan kita seperti tenda, poncho, ransel, dan sleeping bag. Pasalnya peralatan tersebut baru saja kita beli dan setelah dua sampai tiga kali kita pakai, peralatan tersebut sudah kehilangan anti airnya. Nah, berangkat dari pengalaman tersebut kami ingin membagi ilmu. Bagaimana caranya mengembalikan anti air tersebut.


Jurus Pertama
Sediakan 100 gram tawas (aulin), 200 gram loodacetat. Masing-masing dilarutkan dalam 1,5 liter air dan didiamkan selama 12 jam. Setelah itu campurkan bagian jernih dari kedua larutan itu. Kemudian setelah kotoran-kotorannya dibuang, pada campuran itu tambahkan 3 liter air lagi.
Nah, anda dapat mulai memasukkan peralatan yang telah dicuci bersih. Diamkan selama 24 jam. Jangan lupa balikkan peralatan tersebut agar basahnya merata. Keringkan peralatan tersebut tanpa diperas dan anda telah memiliki peralatan yang anti air kembali.

Jurus kedua
Sediakan 25 gram sabun cuci, 25 gram agar-agar, 1,5 liter air panas dan 25 gram tawas. Larutkan sabun dan agar-agar tersebut dalam air panas yang telah disediakan tadi. Setelah hancur tambahkan 2 liter air dingin.
Masukan ransel yang telah dicuci dan direndam selama 24 jam. Keringkan tanpa diperas dan jemurlah hingga kering.
Demikianlah jurus-jurus ampuh untuk mengembalikan anti air pada peralatan gunung kita.

 Selamat mencoba!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS